<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Atsar As-Salaf Ahlussunnah wal Jama&#039;ah {{ www.atsarussalaf.wordpress.com }} :: Upaya Meniti Jejak Salaf Ash-Shalih :: (Situs Dakwah Salafy Samarinda Kalimantan Timur)</title>
	<atom:link href="http://atsarussalaf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://atsarussalaf.wordpress.com</link>
	<description>Upaya Meniti Jejak Salaf Ash Shalih</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 22:52:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='atsarussalaf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9e3bf65f603a798f3b938ca8eb455b9a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Atsar As-Salaf Ahlussunnah wal Jama&#039;ah {{ www.atsarussalaf.wordpress.com }} :: Upaya Meniti Jejak Salaf Ash-Shalih :: (Situs Dakwah Salafy Samarinda Kalimantan Timur)</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://atsarussalaf.wordpress.com/osd.xml" title="Atsar As-Salaf Ahlussunnah wal Jama&#039;ah {{ www.atsarussalaf.wordpress.com }} :: Upaya Meniti Jejak Salaf Ash-Shalih :: (Situs Dakwah Salafy Samarinda Kalimantan Timur)" />
	<atom:link rel='hub' href='http://atsarussalaf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/989/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/989/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 22:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=989</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=989&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI4MDE1OTAwOTg1OSZwdD*xMjgwMTU5MTE*NTk2JnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMFdpZGdldCUzYSUyMHNhbGFtLW9y/bmFtZW5*LTAxJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTg2YTBiN2RlODFhYzQzZGM5NWVhOWFjNTNiMzFiNDk2Jm9mPTA=.gif" alt="" width="0" height="0" border="0" /></p>
<div style="text-align:center;"><iframe frameborder="0" width="358" height="107" src="http://wpcomwidgets.com/?width=350&amp;height=99&amp;src=http%3A%2F%2Fwww.widgipedia.com%2Fwidgets%2Falhabib%2FSalam-Welcome-Message-Ornament-4877-8192_134217728.widget%3F__install_id%3D1280158297250%26__view%3Dexpanded&amp;quality=autohigh&amp;flashvars=colframe%3D006600%26colsalam%3D006600%26col1%3D0000ff%26text1%3DAhlan%2520wa%2520Sahlan%26col2%3D33cc00%26text2%3Ddi%2520Website%2520Kami%26gig_lt%3D1280159009859%26gig_pt%3D1280159114596%26gig_g%3D1%26gig_n%3Dwordpress&amp;loop=false&amp;wmode=transparent&amp;menu=false&amp;allowscriptaccess=sameDomain&amp;_tag=gigya&amp;_hash=bc14280243f7cdf2303504b1656ad0f9" id="bc14280243f7cdf2303504b1656ad0f9"></iframe></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/989/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/989/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=989&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/989/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI4MDE1OTAwOTg1OSZwdD*xMjgwMTU5MTE*NTk2JnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMFdpZGdldCUzYSUyMHNhbGFtLW9y/bmFtZW5*LTAxJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPTg2YTBiN2RlODFhYzQzZGM5NWVhOWFjNTNiMzFiNDk2Jm9mPTA=.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tips Membina Rumah Tangga yang Sakinah</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/tips-membina-rumah-tangga-yang-sakinah/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/tips-membina-rumah-tangga-yang-sakinah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 22:32:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[Membina]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[sakinah]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=984</guid>
		<description><![CDATA[Setiap insan yang hidup pasti menginginkan dan mendambakan suatu kehidupan yang bahagia, tentram, sejahtera, penuh dengan keamanan dan ketenangan atau bisa dikatakan kehidupan yang sakinah, karena memang sifat dasar manusia adalah senantiasa condong kepada hal-hal yang bisa menentramkan jiwa serta membahagiakan anggota badannya, sehingga berbagai cara dan usaha ditempuh untuk meraih kehidupan yang sakinah tersebut.Pembaca [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=984&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setiap insan yang hidup pasti menginginkan dan mendambakan suatu kehidupan yang bahagia, tentram, sejahtera, penuh dengan keamanan dan ketenangan atau bisa dikatakan kehidupan yang sakinah, karena memang sifat dasar manusia adalah senantiasa condong kepada hal-hal yang bisa menentramkan jiwa serta membahagiakan anggota badannya, sehingga berbagai cara dan usaha ditempuh untuk meraih kehidupan yang sakinah tersebut.<span id="more-984"></span>Pembaca yang budiman, sesungguhnya sebuah kehidupan yang sakinah, yang dibangun diatas rasa cinta dan kasih sayang, tentu sangat berarti dan bernilai dalam sebuah rumah tangga. Betapa tidak, bagi seorang pria atau seorang wanita yang akan membangun sebuah rumah tangga melalui tali pernikahan, pasti berharap dan bercita-cita bisa membentuk sebuah rumah tangga yang sakinah, ataupun bagi yang telah menjalani kehidupan berumah tangga senantiasa berupaya untuk meraih kehidupan yang sakinah tersebut.<strong> HAKEKAT KEHIDUPAN RUMAH TANGGA YANG SAKINAH</strong><br />
Pembaca yang budiman, telah disebutkan tadi bahwasanya setiap pribadi, terkhusus mereka yang telah berumah tangga, pasti dan sangat berkeinginan untuk merasakan kehidupan yang sakinah, sehingga kita menyaksikan berbagai macam cara dan usaha serta berbagai jenis metode ditempuh, yang mana semuanya itu dibangun diatas presepsi yang berbeda dalam mencapai tujuan kehidupan yang sakinah tadi. Maka nampak di pandangan kita sebagian orang ada yang berusaha mencari dan menumpuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya, karena mereka menganggap bahwa dengan harta itulah akan diraih kehidupan yang sakinah.Ada pula yang senantiasa berupaya untuk menyehatkan dan memperindah tubuhnya, karena memang di benak mereka kehidupan yang sakinah itu terletak pada kesehatan fisik dan keindahan bentuk tubuh. Disana ada juga yang berpandangan bahwa kehidupan yang sakinah bisa diperoleh semata-mata pada makanan yang lezat dan beraneka ragam, tempat tinggal yang luas dan megah, serta pasangan hidup yang rupawan, sehingga mereka berupaya dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan itu semua. Akan tetapi, pembaca yang budiman, perlu kita ketahui dan pahami terlebih dahulu apa sebenarnya hakekat kehidupan yang sakinah dalam sebuah kehidupan rumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal">Sesungguhnya hakekat kehidupan yang sakinah adalah suatu kehidupan yang dilandasi mawaddah warohmah (cinta dan kasih sayang) dari Allah subhanahu wata’ala Pencipta alam semesta ini. Yakni sebuah kehidupan yang dirihdoi Allah, yang mana para pelakunya/orang yang menjalani kehidupan tersebut senantiasa berusaha dan mencari keridhoan Allah dan rasulNya, dengan cara melakukan setiap apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah dan rasulNya.<br />
Maka kesimpulannya, bahwa hakekat sebuah kehidupan rumah tangga yang sakinah adalah terletak pada realisasi/penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan berumah tangga yang bertujuan mencari ridho Allah subhanahu wata’ala. Karena memang hakekat ketenangan jiwa (sakinah) itu adalah ketenangan yang terbimbing dengan agama dan datang dari sisi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah (artinya):<br />
“Dia-lah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang yang beriman agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (Al Fath: 4)</p>
<p class="MsoNormal"><strong>BIMBINGAN RASULULLAH DALAM KEHiDUPAN BERUMAH TANGGA</strong><br />
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selaku uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) yang patut dicontoh telah membimbing umatnya dalam hidup berumah tangga agar tercapai sebuah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Bimbingan tersebut baik secara lisan melalui sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam maupun secara amaliah, yakni dengan perbuatan/contoh yang beliau shalallahu ‘alaihi wasallam lakukan. Diantaranya adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menghasung seorang suami dan isteri untuk saling ta’awun (tolong menolong, bahu membahu, bantu membantu) dan bekerja sama dalam bentuk saling menasehati dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan, sebagaimana sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ</p>
<p class="MsoNormal">“Nasehatilah isteri-isteri kalian dengan cara yang baik, karena sesungguhnya para wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya (paling atas), maka jika kalian (para suami) keras dalam meluruskannya (membimbingnya), pasti kalian akan mematahkannya. Dan jika kalian membiarkannya (yakni tidak membimbingnya), maka tetap akan bengkok. Nasehatilah isteri-isteri (para wanita) dengan cara yang baik.” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)<br />
Dalam hadits tersebut, kita melihat bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membimbing para suami untuk senantiasa mendidik dan menasehati isteri-isteri mereka dengan cara yang baik, lembut dan terus-menerus atau berkesinambungan dalam menasehatinya. Hal ini ditunjukkan dengan sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ</p>
<p class="MsoNormal">yakni “jika kalian para suami tidak menasehati mereka (para isteri), maka mereka tetap dalam keadaan bengkok,” artinya tetap dalam keadaan salah dan keliru. Karena memang wanita itu lemah dan kurang akal dan agamanya, serta mempunyai sifat kebengkokan karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana disebutkan dalam hadits tadi, sehingga senantiasa butuh terhadap nasehat.</p>
<p class="MsoNormal">Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahkan ini dianjurkan bagi seorang isteri untuk memberikan nasehat kepada suaminya dengan cara yang baik pula, karena nasehat sangat dibutuhkan bagi siapa saja. Dan bagi siapa saja yang mampu hendaklah dilakukan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):<br />
“Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al ‘Ashr: 3)</p>
<p class="MsoNormal">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ</p>
<p class="MsoNormal">“Agama itu nasehat.” (HR. Muslim no. 55)<br />
Maka sebuah rumah tangga akan tetap kokoh dan akan meraih suatu kehidupan yang sakinah, insya Allah, dengan adanya sikap saling menasehati dalam kebaikan dan ketakwaan.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>DIANTARA TIPS/CARA MERAIH KEHIDUPAN YANG SAKINAH</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>1. Berdzikir</strong><br />
Ketahuilah, dengan berdzikir dan memperbanyak dzikir kepada Allah, maka seseorang akan memperoleh ketenangan dalam hidup (sakinah). Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):<br />
“Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah, (maka) hati (jiwa) akan (menjadi) tenang.” (Ar Ra’d:28)<br />
Baik dzikir dengan makna khusus, yaitu dengan melafazhkan dzikir-dzikir tertentu yang telah disyariatkan, misal:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">أَسْتَغْفِرُالله ,</p>
<p class="MsoNormal">dan lain-lain, maupun dzikir dengan makna umum, yaitu mengingat, sehingga mencakup/meliputi segala jenis ibadah atau kekuatan yang dilakukan seorang hamba dalam rangka mengingat Allah subhanahu wata’ala, seperti sholat, shoum (puasa), shodaqoh, dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>2. Menuntut ilmu agama</strong><br />
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ</p>
<p class="MsoNormal">“Tidaklah berkumpul suatu kaum/kelompok disalah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), (yang mana) mereka membaca Al Qur`an dan mengkajinya diantara mereka, kecuali akan turun (dari sisi Allah subhanahu wata’ala) kepada mereka as sakinah (ketenangan).” (Muttafaqun ‘alaihi. Hadits shohih, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)<br />
Dalam hadits diatas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira bagi mereka yang mempelajari Al Qur`an (ilmu agama), baik dengan mempelajari cara membaca maupun dengan membaca sekaligus mengaji makna serta tafsirnya, yaitu bahwasanya Allah akan menurunkan as sakinah (ketenangan jiwa) pada mereka.</p>
<p class="MsoNormal">Pembaca yang budiman, demikianlah diantara beberapa hal yang bisa dijadikan tips untuk meraih dan membina rumah tangga yang sakinah. Wallahu a’lam. Semoga kajian ringkas ini dapat kita terapkan dalam hidup berkeluarga sehingga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Amiin, Ya Rabbal alamiin.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber: http://www.mahadassalafy.net/?p=64</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/984/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=984&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2012/01/27/tips-membina-rumah-tangga-yang-sakinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyampaikan Kajian dengan Seijin Pemerintah, Sebuah Manhaj As-Salaf</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/11/13/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/11/13/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 22:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[As-Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[ijin]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=968</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: dr. M Faiq Sulaifi Termasuk manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah meminta ijin pemerintah dalam mengadakan kegiatan dakwah. Ketika melakukan kegiatan dakwah, mereka membangun lembaga dakwah atau yayasan dakwah sebagaimana peraturan pemerintah di negeri mereka. Begitu pula ketika mengadakan kegiatan daurah keilmuan, mereka juga harus mendapatkan ijin dari pemerintah setempat. Sebaliknya, manhaj khawarij adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=968&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: dr. M Faiq Sulaifi</p>
<p>Termasuk manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah <strong><em>meminta ijin pemerintah dalam mengadakan kegiatan dakwah</em></strong>. Ketika melakukan kegiatan dakwah, mereka membangun lembaga dakwah atau yayasan dakwah sebagaimana <strong><em>peraturan pemerintah</em></strong> di negeri mereka. Begitu pula ketika mengadakan kegiatan daurah keilmuan, mereka juga harus mendapatkan ijin dari pemerintah setempat.<span id="more-968"></span></p>
<p>Sebaliknya, manhaj khawarij adalah melakukan dakwah tanpa seijin penguasa. Mereka berdakwah secara diam-diam tanpa mendirikan lembaga ataupun yayasan sehingga menyulitkan pemerintah untuk mengawasi mereka. Begitu pula ketika mengadakan daurah, mereka tidak meminta ijin pemerintah terlebih dahulu.</p>
<p><strong>Matan Hadits </strong></p>
<p>Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i t, ia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda:</p>
<p dir="rtl">لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ</p>
<p><strong><em>“Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.”</em></strong> (HR. Abu Dawud: 3180, Ibnu Majah: 3743, Ahmad: 6374, Al-Bazzar: 2397 (7/226), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 14849 (18/76)).</p>
<p><strong>Derajat Hadits</strong></p>
<p>Al-Hafizh Al-Haitsami berkata tentang riwayat Ahmad: “Diriwayatkan oleh Ahmad dan <strong><em>isnadnya adalah hasan</em></strong>.” (Majma’uz Zawaid: 907 (1/451)). Beliau juga berkata tentang riwayat Ath-Thabrani: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan <strong><em>isnadnya hasan</em></strong>.” (Majma’uz Zawaid: 910 (1/452)).</p>
<p>Riwayat Abu Dawud dan Ath-Thabrani di atas juga <strong><em>dinilai jayyid</em></strong> oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab beliau Tahdzirul Khawash min Akadzibil Qashshash. (Tahdzirul Khawash: 173)</p>
<p>Al-Allamah Al-Muhaddits Al-Albani juga berkata: “<strong><em>Hadits ini shahih tanpa keraguan</em></strong>, dengan terkumpulnya 3 jalan ini. Apalagi riwayat yang terakhir juga hasan sebagaimana keterangan terdahulu. Wallahu a’lam.” (Silsilah Ash-Shahihah: 2020 (5/19)).</p>
<p><strong>Makna Hadits</strong></p>
<p>Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi berkata:</p>
<p dir="rtl">(لا يقص على الناس) أي لا يتكلم عليهم بالقصص والإفتاء</p>
<p>“Maksud hadits (<strong><em>Tidaklah menyampaikan kisah kepada manusia</em></strong>) adalah <strong><em>tidaklah berbicara tentang kisah dan berfatwa kepada mereka</em></strong>.” (Faidlul Qadir: 6587).</p>
<p>Beliau juga menjelaskan:</p>
<p dir="rtl">(أو مأمور) أي مأذون له في ذلك من الحاكم</p>
<p>“Maksud sabda beliau (<strong><em>atau orang yang diperintah (oleh amir)</em></strong>) adalah <strong><em>orang yang diijinkan oleh penguasa untuk berfatwa atau menyampaikan kisah</em></strong>.” (Faidlul Qadir: 6587).</p>
<p>Al-Allamah Ubaidullah Al-Mubarakfuri berkata:</p>
<p dir="rtl">وفي الحديث الزجر عن الوعظ بغير إذن الإمام؛ لأنه أعرف بمصالح الرعية، فمن رأى فيه حسن العقيدة وصدق الحال يأذن له أن يعظ الناس وإلا فلا</p>
<p>“<strong><em>Di dalam hadits ini terdapat larangan yang keras dari kegiatan memberikan nasehat (ceramah) tanpa seijin imam (penguasa)</em></strong>. Karena ia lebih mengetahui terhadap kemaslahatan rakyat. Maka orang-orang yang menurut pemerintah, memiliki kebaikan aqidah dan jujurnya keadaan maka mereka dapat diberikan ijin untuk menyampaikan nasehat kepada manusia dan begitu pula sebaliknya.” (Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 242 (1/336)).</p>
<p>Al-Imam Al-Baghawi menukilkan dari Ibnu Syuraih bahwa ia berkata:</p>
<p dir="rtl">وكان الأمراء يلون الخطبة يعظون فيها الناس. والمأمور : من يقيمه الإمام خطيبا ، والمختال : من نصب نفسه لذلك اختيالا وتكبرا ، وطلبا للرياسة من غير أن يؤمر به.</p>
<p>“Adalah pemerintah itu mengurusi masalah khutbah. Mereka berkhutbah untuk memberikan nasehat kepada manusia. Orang yang diperintah adalah orang yang ditunjuk oleh penguasa menjadi khatib. Dan orang yang sombong adalah yang menunjuk dirinya untuk berkhutbah dalam rangka berbangga-bangga, sombong dan mencari kedudukan dengan <strong><em>tanpa diperintahkan atau diijinkan terlebih dahulu</em></strong>.” (Syarhus Sunnah: 1/304).</p>
<p><strong>Keterangan As-Salaf</strong></p>
<p>Al-Imam Sahl bin Abdullah At-Tustari (wafat tahun 283 H) berkata:</p>
<p dir="rtl">إذا نهى السلطانُ العالمَ أن يُفتِيَ فليس له أن يُفتي، فإن أفتى فهو عاصٍ، وإنْ كان أميراً جائراً</p>
<p><strong><em>“Jika sultan (pemerintah) melarang seorang alim untuk berfatwa, maka ia tidak boleh berfatwa. Jika ia tetap berfatwa maka ia telah berbuat maksiat meskipun  sultan tersebut merupakan pemimpin yang zhalim.”</em></strong> (Tafsir Al-Qurthubi: 5/259, Tafsir Al-Bahrul Muhith: 4/174).</p>
<p>Demikian pula sikap Ammar bin Yasir y ketika menyampaikan hadits tentang tayammum kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t. Umar berkata:</p>
<p dir="rtl">اتَّقِ اللَّهَ يَا عَمَّارُ قَالَ إِنْ شِئْتَ لَمْ أُحَدِّثْ بِهِ</p>
<p><strong><em>“Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar!”</em></strong> Maka Ammar pun berkata: <strong><em>“Kalau engkau mau, maka aku tidak akan menyampaikan hadits itu lagi.”</em></strong> (HR. Muslim: 553 dan An-Nasa’i: 314).</p>
<p>Dahulu Abu Musa Al-Asy’ari t pernah berfatwa tentang <strong><em>haji tamattu’</em></strong>. Kemudian sampailah kepada beliau bahwa Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab t memerintahkan <strong><em>haji ifrad</em></strong>. Maka beliau pun berkata:</p>
<p dir="rtl">يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ كُنَّا أَفْتَيْنَاهُ فُتْيَا فَلْيَتَّئِدْ فَإِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَادِمٌ عَلَيْكُمْ فَبِهِ فَأْتَمُّوا</p>
<p><strong><em>“Wahai manusia! Barangsiapa yang telah kami berikan kepadanya suatu fatwa maka hendaknya fatwa tersebut jangan dilaksanakan dulu. Karena Amirul Mukminin telah datang kepada kalian maka hanya dengannya hendaknya kalian bermakmum!”</em></strong> (HR. Muslim: 2143, Ad-Darimi: 1815, Ahmad: 18713 dan lain-lain).</p>
<p>Dari Amr bin Dinar , ia berkata:</p>
<p dir="rtl">أن تميم الداري استأذن عمر في القصص فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فأبى أن يأذن له ثم استأذنه فقال : إن شئت وأشار بيده يعني الذبح</p>
<p><strong><em>“Bahwa Tamim Ad-Dari meminta ijin kepada Umar untuk menyampaikan kisah-kisah maka Umar tidak mau memberikan ijin kepadanya. Kemudian ia meminta ijin lagi dan Umar tidak mengijinkannya. Pada kali yang ketiga Umar berkata: “Kalau kamu mau maka kamu akan disembelih.” Sambil berisyarat dengan tangannya.”</em></strong> (Atsar riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Kabir: 1250 (2/49). Al-Haitsami berkata: “Perawinya adalah perawi Ash-Shahih kecuali bahwa Amr bin Dinar tidak pernah mendengar Umar (Majma’uz Zawaid: 905 (1/450) dan As-Suyuthi menilai <strong><em>jayyid</em></strong> isnadnya dalam Tahdzirul Khawash: 172).</p>
<p>Abdul Jabbar Al-Khaulani berkata:</p>
<p dir="rtl">دَخَلَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ مَنْ هَذَا قَالُوا كَعْبٌ يَقُصُّ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقُصُّ إِلَّا أَمِيرٌ أَوْ مَأْمُورٌ أَوْ مُخْتَالٌ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ كَعْبًا فَمَا رُئِيَ يَقُصُّ بَعْدُ</p>
<p>“Salah seorang sahabat Nabi e memasuki masjid. Ternyata di sana ada Ka’ab (Al-Ahbar) yang sedang membacakan kisah. Maka Sahabi ini bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Ia adalah Ka’ab yang sedang membacakan kisah.” Maka Sahabi ini berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah e bersabda: <strong><em>“Tidaklah menyampaikan kisah kecuali amir (penguasa) atau orang yang diperintah (oleh amir) atau orang yang sombong.”</em></strong> Maka hadits ini akhirnya sampai kepada Ka’ab. <strong><em>Kemudian </em><span style="text-decoration:underline;">ia tidak pernah terlihat lagi membacakan kisah setelah itu</span></strong>.” (HR. Ahmad: 17358 dan isnadnya di-hasan-kan oleh Al-Haitsami: 907 (1/451)).</p>
<p><strong>Kisah Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Raja Al-Watsiq</strong></p>
<p>Sesungguhnya dalam kisah ini terdapat pelajaran bagi kita. Al-Imam Ahmad pernah <strong><em>dicekal</em></strong> oleh rezim Raja Al-Watsiq yang bermanhaj <strong><em>mu’tazilah</em></strong>. Ini karena Al-Imam Ahmad mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu <strong><em>Al-Quran adalah firman Allah, bukan makhluk</em></strong>. Sedangkan rezim Al-Watsiq menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Dan ini menjadi sebab pencekalan Al-Imam Ahmad. Beliau tidak boleh mengadakan perkumpulan, menyampaikan ilmu dan diharuskan bersembunyi. Dan beliau menaati perintah pencekalan ini sampai berakhirnya kekuasaan Al-Watsiq.</p>
<p>Al-Imam Hanbal bin Ishaq (sepupu Al-Imam Ahmad) berkata:</p>
<p dir="rtl">فبينانحن في أيام الواثق، إذ جاء يعقوب ليلا برسالة الامير إسحاق بن إبراهيم إلى أبي عبد الله: يقول لك الامير: إن أمير المؤمنين قد ذكرك، <span style="text-decoration:underline;">فلا يجتمعن إليك أحد</span>، ولا تساكني بأرض ولا مدينة أنا فيها، فاذهب حيث شئت من أرض الله.</p>
<p dir="rtl">قال: فاختفى أبو عبد الله بقية حياة الواثق.</p>
<p dir="rtl">وكانت تلك الفتنة، وقتل أحمد بن نصر الخزاعي.</p>
<p dir="rtl">ولم يزل أبو عبد الله مختفيا في البيت لا يخرج إلى صلاة ولا إلى غيرها حتى هلك الواثق.</p>
<p>“Suatu ketika kami di masa kekuasaan Raja Al-Watsiq. Tiba-tiba Ya’qub datang pada malam hari dengan membawa sepucuk surat dari Amir (Gubernur) Ishaq bin Ibrahim kepada Al-Imam Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal). Gubernur berkata (dalam suratnya): <strong><em>“Sesungguhnya Amirul Mukminin (Raja Al-Watsiq) telah menyebutkanmu. Maka janganlah seorang pun berkumpul (bermajelis) kepadamu dan janganlah engkau berdiam denganku di bumi ataupun kota yang mana di situ ada aku! Pergilah ke tempat sesukamu dari bumi Allah!”</em></strong></p>
<p>Hanbal bin Ishaq berkata: “Maka Al-Imam Abu Abdillah <strong><em>bersembunyi</em></strong> sampai masa sisa dari kehidupan Raja Al-Watsiq. Dan pada fitnah itu terbunuhlah Ahmad bin Nashr Al-Khuza’i. <strong><em>Dan Al-Imam Abu Abdillah senantiasa bersembunyi di rumah. Beliau tidak keluar rumah untuk menghadiri shalat jamaah tidak pula acara yang lainnya sampai Raja Al-Watsiq mati</em></strong>.” (Siyar A’lamin Nubala’: 11/263-264).</p>
<p><strong>Ijin Pemerintah</strong></p>
<p>Pada hakekatnya pemerintah RI telah memberikan jaminan kebebasan bagi warganya untuk berpendapat, berserikat dan berkumpul. Agar tertib administrasi dan hukum, pemerintah mengeluarkan UU no. 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, Peraturan Pemerintah no. 18 tahun 1986 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Untuk sekala kecil pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah no. 63 tahun 2008 tentang <strong><em>Yayasan</em></strong>. <strong><em>Sehingga orang yang berkumpul baik dalam majelis ta’lim atau apapun kegiatannya, harus mendapatkan pengesahan dari pemerintah melalui lembaga yang diatur dalam peraturannya semisal organisasi kemasyarakatan atau yayasan atau lembaga dakwah</em></strong>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Maka orang-orang yang mengadakan majelis ta’lim tanpa seijin pemerintah –yaitu tanpa mendirikan <strong><em>yayasan</em></strong>- adalah orang-orang yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah. Sehingga kalau mereka konsisten dengan bid’ahnya yayasan maka hendaknya mereka tidak mengadakan majelis ta’lim dan cukup duduk-duduk di rumah mereka saja. Dan kalau mereka memaksa, maka mereka termasuk orang-orang yang sombong dan mencari kedudukan. Wallahu a’lam.</p>
<p>Sumber: http://sulaifi.wordpress.com/2011/05/06/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/968/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/968/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=968&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/11/13/menyampaikan-kajian-dengan-seijin-pemerintah-sebuah-manhaj-as-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Jual Beli Pakaian Wanita Yang Ketat Dan Transparan</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-jual-beli-pakaian-wanita-yang-ketat-dan-transparan/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-jual-beli-pakaian-wanita-yang-ketat-dan-transparan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 06:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Mu&#039;amalah]]></category>
		<category><![CDATA[jual beli]]></category>
		<category><![CDATA[ketat]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian wanita]]></category>
		<category><![CDATA[transparan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=958</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta (Komite Tetap Urusan Riset Ilmiah dan Fatwa) Pertanyaan: Kami mohon fatwa dari samahah (para ulama yang kami hormati) tentang hukum menjual-belikan celana ketat dengan berbagai jenisnya, di antaranya yang disebut dengan celana jeans, stelan yang terdiri dari celana dan blus, sepatu wanita ber-hak tinggi, cat rambut dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=958&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta (Komite Tetap Urusan Riset Ilmiah dan Fatwa)</p>
<p>Pertanyaan:<br />
Kami mohon fatwa dari samahah (para ulama yang kami hormati) tentang hukum menjual-belikan celana ketat dengan berbagai jenisnya, di antaranya yang disebut dengan celana jeans, stelan yang terdiri dari celana dan blus, sepatu wanita ber-hak tinggi, cat rambut dengan aneka jenis dan warnanya, terutama yang biasa dipakai oleh kaum wanita, pakaian wanita yang transparan, atau yang disebut dengan sifon, gaun wanita dengan lengan pendek, dan rok ukuran 2/3 atau mini?<br />
Jawaban:<span id="more-958"></span><br />
Segala hal yang digunakan, atau diduga kuat akan dalam perbuatan haram, maka haram untuk diproduksi, didatangkan, dijual-belikan, dan dipasarkan di tengah-tengah umat islam. Diantaranya ialah berbagai barang yang banyak menyebar di kalangan kaum wanita muslimah –semoga Allah melimpahkan hidayah kepada mereka- berupa: pakaian transparan, sempit dan pendek, atau segala pakaian yang dapat menonjolkan kecantikan, keindahan dan lekak-lekuk tubuh wanita dihadapan para lelaki non mahrom.<br />
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Setiap pakaian yang diduga kuat akan dikenakan untuk melakukan tindak kemaksiatan, maka anda tidak boleh menjual, atau membuatkannya untuk orang yang akan mengenakannya dalam kemaksiatan dan perbuatan kezhaliman. Oleh karena itu dibenci menjual roti, dan daging kepada orang yang diketahui akan menjadikannya sebagai hidangan penyerta acara minum khamer, atau menjual wewangian kepada orang yang akan menjadikannya sebagai pelengkap acara minum khamer atau perzinaan. Demikian juga halnya setiap barang yang pada asalnya mubah diperjualbelikan bila digunakan sebagai penunjang kemaksiatan.<br />
Setiap pengusaha muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, dengan menjalankan syari’at nasehat-menasehati sesama muslim. Dengan demikian ia tidaklah memproduksi atau memasarkan kecuali barang-barang yang mendatangkan kemanfaatan dan kebaikan bagi umat Islam. Sebagaimana sudah sepantasnya bila seorang pengusaha muslim menjauhi setiap barang yang mendatangkan kejelekan dan kerusakan pada mereka. Ketahuilah bahwa rizki dan usaha yang halal terlalu banyak jumlahnya bila dibandingkan dengan yang haram.</p>
<p>وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ . الطلاق 2-3</p>
<p>“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. At Thalaq: 2-3)<br />
Perlu diketahui bahwa kewajiban nasehat-menasehati ini merupakan bukti akan keimanan anda. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ</p>
<p>“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (Qs. At Taubah: 71)<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قيل لِمَنْ يا رسول الله؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ. مسلم</p>
<p>“Agama itu adalah nasehat.” Dikatakan kepada beliau: “Nasehat untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin dan seluruh lapisan masyarakat Islam.” (Riwayat Muslim)<br />
Sahabat jabir bi Abdillah Al Bajali radhiallahu ‘anhu mengisahkan: “Aku pernah membai’at (berjanji setia) kepada Raulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, membayar zakat dan memberi nasehat kepada setiap orang Islam.” (Muttafaqun ‘alaih)<br />
Dan yang dimaksudkan oleh Syeikhul Islam rahimahullah dari ucapannya di atas bahwa: “Oleh karena itu dibenci menjual roti, dan daging kepada orang yang diketahui akan menjadikannya sebagai hidangan penyerta acara minum khamer….” adalah dibenci yang bermaknakan haram, sebagaimana hal ini dapat diketahui dari berbagai fatwa beliau lainnya.<br />
Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq kepada anda. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.<br />
Anggota Tetap Komite Urusan Riset Ilmiah dan Fatwa.<br />
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz<br />
Anggota: Bakr Abu Zaid.<br />
Anggota: Shaleh Fauzan.<br />
Anggota: Abdul Aziz Alus Syeikh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/958/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/958/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=958&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-jual-beli-pakaian-wanita-yang-ketat-dan-transparan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ZAKAT BANGUNAN, TOKO DAN TANAH</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/zakat-bangunan-toko-dan-tanah/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/zakat-bangunan-toko-dan-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 02:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Mu&#039;amalah]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>
		<category><![CDATA[toko]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta Pertanyaan. Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Saya mempunyai seorang saudara kaya raya. Sebagian hartanya ia investasikan dalam bentuk bangunan, toko dan tanah. Seluruhnya adalah investasi yang profit (menghasilkan). Saya telah menasehatinya agar membayar zakat atas modal harta perniagaannya itu. Ia mengatakan bahwa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=949&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Oleh: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta</p>
<p>Pertanyaan.<br />
Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Saya mempunyai seorang saudara kaya raya. Sebagian hartanya ia investasikan dalam bentuk bangunan, toko dan tanah. Seluruhnya adalah investasi yang profit (menghasilkan). Saya telah menasehatinya agar membayar zakat atas modal harta perniagaannya itu. Ia mengatakan bahwa yang wajib dibayar zakatnya hanyalah uang hasil persewaan investasinya bila telah genap satu tahun. Sementara modal dasarnya tidak perlu dikeluarkan zakatnya. Dan apabila setiap kali menerima uang hasil sewa, langsung dialokasikan untuk biaya operasional bangunan, maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya, baik uang hasil penyewaan maupun modal dasarnya. Kecuali bila uang hasil penyewaan itu telah genap satu haul sebelum dialokasikan untuk bangunan. Perlu diketahui bahwa banyak teman-teman saudara saya itu yang melakukan cara serupa. Apakah cara seperti itu Dibenarkan Dienul Islam ? Dan apakah pelakunya tidak terkena dosa ? Dan barang berharga apakah yang tidak wajib dikeluarkan zakatnya, baik modal dasar maupun keuntungannya hingga genap satu tahun ? Apakah ada batasan tertentu dalam masalah ini atau tidak ada perbedaan antara yang banyak dengan yang sedikit ?</p>
<p>Jawaban.<span id="more-949"></span><br />
Ada beberapa jenis harta yang dimiliki seorang insan.</p>
<p>Harta yang berupa uang wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nishab dan telah genap satu haul. Harta yang berupa hasil-hasil pertanian, wajib dikeluarkan zakatnya berupa biji-bijian dan buah-buahan pada hari panen. Adapun tanah pertaniannya tidak terkena zakat.</p>
<p>Harta berupa tanah atau bangunan yang disewakan wajib dikeuarkan zakatnya dari hasil uang penyewaannya jika telah genap satu haul dan mencapai nishab. Adapun tanah dan bangunannya tidak terkena zakat.</p>
<p>Sementara harta yang diproyeksikan untuk jual beli baik berupa tanah, bangunan, barang-barang lain, juga wajib dikeluarkan zakatnya bila telah genap satu haul. Dengan catatan hitungan haul keuntungan adalah mengikuti haul modal pokoknya apabila modalnya telah dihitung sebagai nishab.</p>
<p>Harta berupa binatang ternak wajib dikeluarkan zakatnya, jika telah mencapai nishab dan telah genap satu haul. Wallahu waliyut taufiq</p>
<p>[Lajnah Da’imah, Fatawa Az-Zakah, disusun oleh Muhammad Al-Musnad, hal.28-29]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/949/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/949/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=949&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/zakat-bangunan-toko-dan-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM BERINTERAKSI DENGAN PERUSAHAAN-PERUSAHAAN LEASING (PERKREDITAN)</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-berinteraksi-dengan-perusahaan-perusahaan-leasing-perkreditan/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-berinteraksi-dengan-perusahaan-perusahaan-leasing-perkreditan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 00:35:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Mu&#039;amalah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi]]></category>
		<category><![CDATA[kredit]]></category>
		<category><![CDATA[leasing]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Kita banyak membaca seputar adanya beberapa perusahaan leasing (perkreditan) melalui beberapa surat kabar dan kita juga mendengar hal itu melalui orang-orang (dari mulut ke mulut). Apakah boleh berinteraksi dengan perusahaan-perusahaan tersebut dan memanfaatkan jasa layanannya? Jawaban Kita harus mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan perusahaan-perusahaan perkreditan; apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=945&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><strong>Pertanyaan</strong><br />
<strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:</strong> Kita banyak membaca<br />
seputar adanya beberapa perusahaan leasing (perkreditan) melalui<br />
beberapa surat kabar dan kita juga mendengar hal itu melalui<br />
orang-orang (dari mulut ke mulut). Apakah boleh berinteraksi dengan<br />
perusahaan-perusahaan tersebut dan memanfaatkan jasa layanannya?</p>
<p><strong>Jawaban<span id="more-945"></span></strong><br />
Kita harus mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan<br />
perusahaan-perusahaan perkreditan; apakah yang dimaksud adalah<br />
penjualan secara kredit atau apa? Jika yang dimaksud adalah penjualan<br />
dengan kredit, maka penjualan secara tangguh adalah dibolehkan<br />
berdasarkan makna zhahir Al-Qur’an dan dalil yang jelas dari As-Sunnah.<br />
Mengenai hal itu, dalam Al-Qur’an Allah berfirman.</p>
<p>“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah<br />
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu<br />
menuliskannya…” hingga firman-Nya:<br />
“…dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun<br />
besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di<br />
sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada<br />
tidak (menimbulkan) keraguannmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali<br />
jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu,<br />
maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya…” (Qs. Al-Baqarah:<br />
282)</p>
<p>Hal tersebut, yakni penjualan secara tangguh (kredit) adalah boleh<br />
hukumnya berdasarkan dalil As-Sunnah yang jelas sekali, sebab Nabi shallallahu<br />
‘alaihi wa sallam pernah mengutus kepada seorang laki-laki yang telah<br />
mempersembahkan<br />
kepada beliau pakaian dari Syam agar menjualnya dengan dua buah baju<br />
kepada Maisarah (budak Khadijah, isteri beliau) [1]</p>
<p>Dalam kitab Ash-Shahihain dan selain keduanya dari hadits yang diriwayatlkan<br />
oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>“Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang ke<br />
Madinah sementara mereka biasa melakukan jual beli secara salam<br />
(memberikan uang di muka namun barangnya belum bisa diambil/memesan)<br />
terhadap kurma setahun atau dua tahun, lalu beliau shallallahu ‘alaihi<br />
wa sallam bersabda: “Barangsiapa memesan kurma, maka hendaklah dia<br />
memesan dalam takaran (Kayl) yang sudah diketahui, dan wazan<br />
(timbangan) yang sudah diketahui hingga batas waktu yang sudah<br />
diketahui.” [2]</p>
<p>Akan tetapi kami pernah mendengarkan bahwa ada sebagian orang yang<br />
menjual barang yang tidak dimilikinya setelah dia mengetahui ada<br />
permintaan dari pembeli kepadanya, seperti seseorang mendatangi seorang<br />
pedagang sembari berkata padanya, “Saya ingin barang yang begini akan tetapi<br />
saya tidak bisa membayarnya.” Lalu si pedagang pergi dan membelinya dari<br />
pemilik asalnya, kemudian<br />
menjualnya lagi kepada orang yang mencarinya tersebut dengan harga<br />
tangguh (kredit) yang lebih mahal daripada harga ketika dia membelinya.</p>
<p>Tidak diragukan labi bahwa ini merupakan pengelabuan (siasat licik)<br />
yang amat jelas sekali untuk melakukan riba, sebab sipedagang ini tidak<br />
pernah berminat membeli barang itu ataupun membeli untuk dirinya<br />
sendiri. Tujuannya hanyalah ingin mendapatkan keuntungan yang akan<br />
diberikan oleh si pembeli kepadanya. Dan ini akan menjadi pembeda<br />
antara jual beli kontan dengan jual beli kredit.</p>
<p>Sebagian orang terkadang sengaja berkata, “Saya mengambil keuntungan<br />
dari anda, misalnya 8%. Atau mengatakan, pada tahun ke dua sebesar 10%.<br />
Atau, pada tahun ke tiga menjadi sebesar 15%, demikian seterusnya, riba<br />
semakin bertambah setiap kali waktunya diperpanjang, atau setiap kali<br />
terlambat membayarnya. Ini merupakan bukti yang nyata sekali bahwa yang<br />
dimaksud oleh si pedagang tersebut hanyalah riba saja.</p>
<p>Seorang yang berakal, bila merenungi hal itu pasti akan menemukan<br />
bahwa tindakan mengelabui tersebut lebih dekat kepada riba dari jenis<br />
Inah yang telah diingatkan oleh Rasulullah. Jual beli Inah adalah<br />
seseorang menjual sesuatu dengan harga tangguh (kredit) lalu membelinya<br />
lagi secara tunai (kontan) dengan harga yang lebih murah dari harga<br />
saat dia mejualnnya kepadanya.</p>
<p>Bisa jadi si penjual ini, yakni penjual pertama ketika menjualnya<br />
tidak terbetik di hatinya bahwa dia akan membelinya lagi dari orang<br />
yang telah membeli darinya, demikian pula tidak pernah terbetik di hati<br />
si pembeli bahwa dia akan menjualnya lagi, kemudian setelah itu dia<br />
mengurungkan niatnya dan menawarkannya di pasaran; sehingga tidak halal<br />
(boleh) bagi penjual pertama untuk membelinya dengan harga yang lebih<br />
rendah (murah) dari harga ketika dia menjualnya, sebab ini termasuk<br />
jual beli Inah yang telah diperingatkan oleh Rasulullah agar tidak<br />
dilakukan, dalam sabdanya:</p>
<p>“Artinya: Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara<br />
Inah, senantiasa memegang ekor sapi, rela dengan tanah garapan<br />
pertanian (senantiasa mendahulukan kehidupan dunia atas kehidupan<br />
akhirat,-pent) dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan<br />
kalian kehinaan yang tidak akan dicabutNya hingga kalian kembali kepada<br />
ajaran dien kalian.” [3]</p>
<p>Sebagaimana telah diketahui bahwa pengelabuan (siasat licik)<br />
terhadap penjualan secara kredit yang telah saya sebutkan di muka lebih<br />
dekat dengan pengelabuan dalam masalah Inah. Oleh karena itu, saya<br />
menasehati saudara-saudaraku, para penjual dan pembeli dari melakukan<br />
transaksi seperti ini, yang mereka tidak akan mendapatkan selain<br />
dicabutnya keberkahan pada jual beli mereka. Sementara Allah telah<br />
berfirman:</p>
<p>Artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Qs. Al-Baqarah: 276)</p>
<p>Disamping itu, traksaksi seperti ini mengandung dampak negatif dari<br />
aspek ekonomi karena begitu mudahnya sehingga membuat kaum fakir nekat<br />
melakukannya dan menanggung hutang serta menyibukkan beban diri mereka<br />
dengan hutang-hutang yang telah bertumpuk ini. Barangkali, ada waktunya<br />
mereka sama sekali tidak mampu melunasinya, maka ketika itu terjadilah<br />
berbagai problematika dan perselisihan antara si penjual dan pembeli<br />
bahkan bisa jadi sampai kepada kondisi kebangkrutan, lalu apa akibat<br />
yang akan dituai oleh penjual yang sengaja menginginkan riba dari<br />
transaksi tersebut? Allah berfirman:</p>
<p>Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang<br />
melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada<br />
mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ Maka Kami jadikan yang demikian<br />
itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang<br />
kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs.<br />
Al-Baqarah: 66-67)</p>
<p>Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan nasehat kepada segenap<br />
saudara-saudaraku, kaum muslimin agar tidak melakukan pengelabuan<br />
terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan hendaknya mereka<br />
mengetahui bahwa yang menjadi standar dalam akad-akad jual-beli adalah<br />
tujuan-tujuannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Artinya: Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung kepada niatnya, dan<br />
setiap orang tergantung kepada niatnya.” [4]</p>
<p>Bila orang ini memang benar-benar temannya, maka alangkah baiknya<br />
dia meminjamkannya dengan pinjaman yang baik (Qardl Hasan), yang tidak<br />
mengandung riba di dalamnya. Dengan begitu, dia termasuk orang-orang<br />
yang berbuat ihsan sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di<br />
dalam kitab-Nya.</p>
<p>“Artinya: sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (ihsan).”<br />
(Qs. Al-Baqarah: 195)</p>
<p>Dan saya menasehati saudara saya yang melakukan transaksi seperti<br />
ini agar menggugurkan riba yang ditambahkannya kepada harga mobil<br />
tersebut dan hanya mengambil sebatas harga pembeliannya saja.</p>
<p>[Kitab Ad-Da’wah, edisi 5, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2, hal. 55-60]<br />
_________<br />
Catatan Kaki:<br />
[1]. HR At-Tirmidzi, Kitab Al-Buyu (1213), An-Nasai, Kitab Al-Buyu (7 /294),<br />
Ahmad (6 /147).<br />
[2]. HR Al-Bukhari, Kitab As-Salam (2239-2241), Muslim, Kitab Al-Musaqah (1604)<br />
[3]. HR Abu Dawud, Kitab Al-Buyu’ (3462), Hadits ini memiliki jalur periwayatan<br />
yang dapat menguatkan kualitasnya (lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah, No. 11.<br />
[4]. HR Al-Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyi (1), Muslim, Kitab Al-Imarah (1907)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/945/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/945/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=945&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/30/hukum-berinteraksi-dengan-perusahaan-perusahaan-leasing-perkreditan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BID&#8217;AH HARI RAYA KETUPAT (Hari Raya Al Abrar)</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/bidah-hari-raya-ketupat-hari-raya-al-abrar/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/bidah-hari-raya-ketupat-hari-raya-al-abrar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 05:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seusai Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya ketupat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=928</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry Di antara perkara yang diada-adakan (bid&#8217;ah) pada bulan Syawwal adalah bid&#8217;ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal. Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=928&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#000000;"><span class="dateartikel">Penulis: Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry</span></span></p>
<p style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;line-height:150%;">Di antara perkara yang diada-adakan (bid&#8217;ah) pada bulan Syawwal adalah bid&#8217;ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal.</p>
<p>Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat. Pent )<span id="more-928"></span></p>
<p>Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: &#8220;adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi&#8217;ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum&#8217;at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka itu semua adalah bid&#8217;ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata&#8217;ala a&#8217;1am.</p>
<p>Peringatan hari raya ini biasanya dilakukan di salah satu masjid yang terkenal, para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan, kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk perayaan itu. (lihat : As Sunan wal mubtadi&#8217;at al muta&#8217;alliqah bil adzkar wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166)</p>
<p>(Kitab Al Bida&#8217; Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 350. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa&#8217;i)</p>
<p>Hari kedelapan dari syawwal ini orang umum menamakannya sebagai Iedul Abrar (hari raya orang yang baik) yaitu orang-orang yang telah puasa enam hari syawwal. Namun hal ini adalah bid&#8217;ah. Maka hari ke delapan ini bukanlah sebagai hari raya, bukan untuk orang baik (abrar) dan bukan pula bagi orang jahat (Fujjar).</p>
<p>Sesungguhnya ucapan mereka (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain.</p>
<p>(Syarhul Mumti&#8217; Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu&#8217;)</p>
<div align="right"><a class="pn-normal" title="printer-friendly page" href="http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=413" target="_blank"><img title="" src="http://www.darussalaf.or.id/images/print.gif" alt="" /></a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/928/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=928&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/bidah-hari-raya-ketupat-hari-raya-al-abrar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.darussalaf.or.id/images/print.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/hukum-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawal/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/hukum-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 05:01:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seusai Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa Syawal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lajnah Ad-Da&#8217;imah lil Buhuts wal Ifta&#8217; Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu : &#8221;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8216;Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup&#8217;.&#8221; [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164] Hukum Puasa Syawal Hukumnya adalah sunnah: &#8220;Ini adalah hadits shahih yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=919&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Lajnah Ad-Da&#8217;imah lil Buhuts wal Ifta&#8217;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu : &#8221;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8216;Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup&#8217;.&#8221; [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]<span id="more-919"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Hukum Puasa Syawal<br />
Hukumnya adalah sunnah: &#8220;Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi&#8217;i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa ini, seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari Ramadhan, atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia tidak mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena semua ini adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak Sunnah yang shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang tidak mengetahui.&#8221;<br />
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/389]</p>
<p>Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:<br />
1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.<br />
&#8220;Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah &#8216;Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. &#8230; dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.&#8221;<br />
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/391]</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:<br />
&#8220;Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.&#8221; [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]</p>
<p>Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: &#8216;Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku. [QS Thoha: 84]</p>
<p>2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan</p>
<p>&#8220;Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.&#8221;</p>
<p>[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/392]</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Tanya : Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ?</p>
<p>Jawab : Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut</p>
<p>&#8220;Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun.&#8221;</p>
<p>Jika seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal ia punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala kecuali telah mengqadla ramadlannya (Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin)</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Hukum mengqadha enam hari puasa Syawal</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Seorang wanita sudah terbiasa menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada suatu tahun ia mengalami nifas karena melahirkan pada permulaan Ramadhan dan belum mendapat kesucian dari nifasnya itu kecuali setelah habisnya bulan Ramadhan, setelah mendapat kesucian ia mengqadha puasa Ramadhan. Apakah diharuskan baginya untuk mengqadha puasa Syawal yang enam hari itu setelah mengqadha puasa Ramadhan walau puasa Syawal itu dikerjakan bukan pada bulan Syawal ? Ataukah puasa Syawal itu tidak harus diqadha kecuali mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam hari Syawal diharuskan terus menerus atau tidak ?</p>
<p>Jawaban<br />
Puasa enam hari di bulan Syawal, sunat hukumnya dan bukan wajib berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
&#8220;Artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun&#8221; [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak, akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala (yang artinya) : &#8220;..Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)&#8221; [Thaha : 84]</p>
<p>Juga berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (yang artinya) : &#8220;Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan walaupun sedikit&#8221;</p>
<p>Tidak disyari&#8217;atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal, karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau tanpa udzur.</p>
<p>Mengqadha enam hari puasa Ramadhan di bulan Syawal, apakah mendapat pahala puasa Syawal enam hari</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Abduillah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal ?</p>
<p>Jawaban<br />
Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya) : &#8220;Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun&#8221;<br />
Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : &#8220;Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan&#8221;</p>
<p>Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Apakah suami berhak untuk melarang istrinya berpuasa Syawal</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Apakah saya berhak untuk melarang istri saya jika ia hendak melakukan puasa sunat seperti puasa enam hari Syawal ? Dan apakah perbuatan saya itu berdosa ?</p>
<p>Jawaban<br />
Ada nash yang melarang seorang wanita untuk berpuasa sunat saat suaminya hadir di sisinya (tidak berpergian/safar) kecuali dengan izin suaminya, hal ini untuk tidak menghalangi kebutuhan biologisnya. Dan seandainya wanita itu berpuasa tanpa seizin suaminya maka boleh bagi suaminya untuk membatalkan puasa istrinya itu jika suaminyta ingin mencampurinya. Jika suaminya itu tidak membutuhkan hajat biologis kepada istrinya, maka makruh hukumnya bagi sang suami untuk melarang istrinya berpuasa jika puasa itu tidak membahayakan diri istrinya atau menyulitkan istrinya dalam mengasuh atau menyusui anaknya, baik itu berupa puasa Syawal yang enam hari itu ataupun puasa-puasa sunnat lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">Hukum puasa sunnah bagi wanita bersuami</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya : Bagaimanakah hukum puasa sunat bagi wanita yang telah bersuami ?</p>
<p>Jawaban<br />
Tidak boleh bagi wanita untuk berpuasa sunat jika suaminya hadir (tidak musafir) kecuali dengan seizinnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : &#8220;Tidak halal bagi seorang wanita unruk berpuasa saat suminya bersamanya kecuali dengan seizinnya&#8221; dalam riwayat lain disebutkan : &#8220;kecuali puasa Ramadhan&#8221;<br />
Adapun jika sang suami memperkenankannya untuk berpuasa sunat, atau suaminya sedang tidak hadir (bepergian), atau wanita itu tidak bersuami, maka dibolehkan baginya menjalankan puasa sunat, terutama pada hari-hari yang dianjurkan untuk berpuasa sunat yaitu : Puasa hari Senin dan Kamis, puasa tiga hari dalam setiap bulan, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa pada sepuluh hari di bulan Dzulhijjah dan di hari &#8216;Arafah, puasa &#8216;Asyura serta puasa sehari sebelum atau setelahnya.</p>
<p>(Al-Fatawa Al-Jami&#8217;ah Lil Mar&#8217;atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita Muslimah, Amin bin Yahya Al-Wazan)</p>
<p>Sumber :<br />
<a href="http://www.salafy.or.id/">www.salafy.or.id</a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0 12pt;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/919/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=919&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/09/15/hukum-puasa-sunnah-6-hari-di-bulan-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAJIAN INTENSIF BULAN RAMADHAN DI SAMARINDA 1432 H/ 2011 M</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/31/kajian-intensif-bulan-ramadhan-di-samarinda-1432-h-2011-m-2/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/31/kajian-intensif-bulan-ramadhan-di-samarinda-1432-h-2011-m-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 03:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajian Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Intensif Ramadhan 1432 H]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=912&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/pamflet_ramadhansmd1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-913" title="Pamflet_RamadhanSmd" src="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/pamflet_ramadhansmd1.jpg?w=231&#038;h=300" alt="" width="231" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/912/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/912/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=912&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/31/kajian-intensif-bulan-ramadhan-di-samarinda-1432-h-2011-m-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/pamflet_ramadhansmd1.jpg?w=231" medium="image">
			<media:title type="html">Pamflet_RamadhanSmd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalimat Penutup DAURAH MASYAYIKH, Yang Disampaikan Oleh Syaikh Khalid Bin Dhahawi Azh-Zhafiri Hafizhahullah Ta&#8217;ala</title>
		<link>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/24/kalimat-penutup-daurah-masyayikh-yang-disampaikan-oleh-syaikh-khalid-bin-dhahawi-azh-zhafiri-hafizhahullah-ta%e2%80%99ala/</link>
		<comments>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/24/kalimat-penutup-daurah-masyayikh-yang-disampaikan-oleh-syaikh-khalid-bin-dhahawi-azh-zhafiri-hafizhahullah-ta%e2%80%99ala/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 13:21:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://atsarussalaf.wordpress.com/?p=865</guid>
		<description><![CDATA[20 SYA’BAN 1432 H / 21 JULI 2011 M Bismillahirrahmanir Rahim Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata: Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=865&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>20 SYA’BAN 1432 H / 21 JULI 2011 M</p>
<p>Bismillahirrahmanir Rahim</p>
<p><a href="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/nasehat.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-882" title="nasehat" src="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/nasehat.jpg?w=468" alt=""   /></a>Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata:</p>
<p>Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan kemuliaan kalian dalam menjamu para tamu. Hal ini sangat jarang kami dapati di negeri- negeri yang lain. Sebagaimana yang telah kami katakan: bahwa tidaklah kami keluar meninggalkan negeri ini melainkan kami selalu merasa rindu untuk kembali lagi kepadanya, disebabkan apa yang kami saksikan dari persaudaraan yang jujur, dan perhatian yang besar kepada ilmu dari para ikhwan disini, dan pada kalian seluruhnya insya Allah.<span id="more-865"></span></p>
<p>Maka saya ingin wasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku karena Allah, aku nasehatkan untuk diriku dan juga kalian:</p>
<p>Pertama: untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dan senantiasa ta’at kepada-Nya, menjauh dari berbagai macam syubhat dan syahwat, menjauh dari jalan syaitan, sebab bertaqwa kepada Allah merupakan keselamatan.</p>
<p>Sebagaimana aku nasehatkan kalian untuk perhatian terhadap ilmu, membaca kitab- kitab, dan bersungguh- sungguh padanya, mendengarkan kaset- kaset dan syrah- syarah dari kitab- kitab para ulama yang telah dikenal, dan tidak mengambil dari siapa saja yang didengar dan dibaca kitab- kitabnya, namun harus engkau mengetahui bahwa orang ini termasuk dari kalangan ahli ilmu yang dipercaya ilmu, manhaj dan juga aqidahnya, sehingga engkau tidak terjerumus kedalam syubhat yang dia sampaikan dalam keadaan kamu tidak merasakannya. Kalian harus menambah perhatian terhadap ilmu dan menuntut ilmu.</p>
<p>Kemudian aku nasehatkan pula kalian untuk bersungguh- sungguh pula dalam mempelajari bahasa Arab, cukup banyak dikalangan para ikhwan yang kami datang setiap tahun namun dia tetap saja berada dalam level yang sama dalam bahasa arab (tidak ada peningkatan,pen), tentu ini merupakan satu kekurangan.</p>
<p>Seorang penuntut ilmu, dia tidak mempelajari dan memperluas ilmunya hingga dia benar- benar menekuni bahasa Arab. Mayoritas kitab-kitab para ulama dan kebanyakannya dengan bahasa ini, Al-qur’an dan as-sunnah juga dengan bahasa ini. Kami tidak mengingkari kesungguhan para ikhwan dalam penerjemahan, dan yang semisalnya, namun ini tidaklah mencukupi dari membaca kitab- kitab yang berbahasa Arab, sebab penerjamahan tersebut tergantung pada pemahaman seorang penerjemah dan kepandaiannya dalam bahasa Arab, dan manusia bertingkat-tingkat dalam perkara ini.</p>
<p>Sebagaimana aku wasiatkan kalian untuk semangat dalam persatuan dan persaudaraan diantara kalian, dan saling menasehati diantara kalian dengan cara lemah lembut dan halus, terkhusus diantara para ikhwah salafiyyin, dan menjauh dari sebab-sebab perselisihan, perpecahan, dan sebab yang menyebabkan kalian lalai dalam berdakwah dan mengalami kemunduran dalam berdakwah. Semua itu penyebabnya adalah perselisihan yang terjadi diantara kita. Jika muncul permusuhan atau perselisihan, hendaknya kedua belah pihak berusaha untuk menyelesaikannya dengan berbagai jalan dan usaha.</p>
<p>فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم</p>
<p>“Janganlah kalian berselisih sehingga kalian terkalahkan dan hilang kekuatan kalian.”</p>
<p>Dengan perselisihan menyebabkan hilangnya kekuatan, dan dakwah terbengkalai, dan hilang kekuatan islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Sebagaimana Aku wasiatkan kalian untuk berhati-hati dari yayasan- yayasan hizbiyah, sebab mayoritas kepentingan mereka terfokus pada kaum muslimin di luar negeri- negeri Arab, perhatian mereka terfokus disini, Indonesia, India, Pakistan, dan kebanyakan negeri- negeri yang jauh dari negeri- negeri Arab. Mereka mengerahkan kesungguhannya hingga mampu memalingkan manusia kepada hizbiyah mereka dan kepada hawa nafsunya, terkhusus apa yang mereka miliki dari fitnah, yaitu fitnah harta, dimana Yayasan Ihya At-Turats datang dan ingin menarik para pemuda dinegeri ini kedalam hizbiyahnya, dan mereka telah berhasil menarik dan menarik sambil membawa apa yang mereka miliki dari dunia, sehingga dakwah mereka tidak memberikan hasil, dan tidak menghasilkan kecuali kehinaan yang disebabkan terperosoknya kedalam lubang hizbiyah yang bid’ah. Demikian pula pada hari-hari belakangan ini Yayasan Darul Birr juga berusaha masuk ke tengah-tengah para ikhwan kita, namun akhirnya merekapun tersingkap walhamdulillah. Yayasan ini juga merupakan yayasan hizbiyah yang merupakan saudara kandung Ihya At-Turats, yang telah memberi bantuan kepada Abul Hasan Al-Ma’ribi dan mengundangnya ke Emirat Arb untuk mengadakan pengajian- pengajian, maka hendaknya berhati- hati dari hizbiyah dan yayasan ini.</p>
<p>Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullah:</p>
<p>(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )</p>
<p>“jangan engkau menjadikan ahli bid’ah berbuat baik kepadamu sehingga hatimu condong kepadanya.”</p>
<p>Ahli bid’ah jika datang kepadamu, memberikan sesuatu kepadamu, dan berbuat baik kepadamu dengan satu hal, dan memberikan kepadamu harta, pada awalnya mereka berkata: kami tidak menginginkan sesuatu kepadamu, dan kami tidak memberi persyaratan, kami hanya ingin membantumu saja. Namun sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka mampu menarikmu dan menarik dakwahmu, sehingga kamupun membela mereka. Hal ini merupakan hal yang disaksikan dan kenyataan yang terjadi pada kebanyakan mereka.</p>
<p>Engkau mengajar dan belajar dibawah pohon leih baik bagimu daripada binasa bersama hizbiyah – hizbiyah dan yayasan yang binasa ini, engkau tidak akan dapat menghasilkan ilmu, agama dan juga sunnah. Maka sepantasnya seseorang berhati- hati dari hizbiyah ini dan yang lainnya.</p>
<p>Inilah wasiat antuk diri saya pribadi dan juga untuk kalian, saya berharap kalian dapat menerimanya dan menyimaknya. Demikian pula saya ulangi kembali ucapan terima kasih atas kalian dan juga atas semangat kalian. Kami memohon kepada Allah Azza Wajalla agar memberi kami dan juga kalian kekokohan diatas sunnah, dan mematikan kami diatasnya, dan menjadikan penutup hidup kami dengan Laa Ilaaha Illallaaah, dan mewafatkan kami dan kalian dalam keadaan muslim, serta menjauhkan kami dari berbagai fitnah yang jahat baik yang nampak maupun yang tersembunyi berupa syubhat dan syahwat. Kami memohon kepada Allah agar melindungi kami darinya.</p>
<p>Jazakumullah khaeran wabaarakallahu fiikum</p>
<p>Wassalaamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.</p>
<p>Berikut transkrip dalambahasa Arab:</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>كلمة في هذا الصباح لأن رحلتنا تكون بعد قليل إن شاء الله فأقول : حقيقة نشكر لكم اجتهادكم في الحضور وحرصكم على طلب العلم واهتمامكم وكرم الضيافة . فهذا قلما نجده في أي بلد من البلدان وكما قلت: ما نخرج من هذا البلد حتى نتشوق إلى القدوم إليها مرة أخرى لما نراه من الأخوة الصادقة والاهتمام بالعلم عند الإخوة هنا وعندكم جميعا إن شاء الله</p>
<p>فأوصيكم إخوتي في لله أوصي نفسي وإياكم :</p>
<p>أولا: بتقوى الله تعالى والاهتمام بالطاعة والبعد عن الشبهات والشهوات والبعد عن سبيل الشيطان فإن تقوى الله هي النجاة</p>
<p>كما أوصيكم بالاهتمام في العلم والقراءة في الكتب والاجتهاد في ذلك وسماع الأشرطة وشروح الكتب من العلماء المعروفين وليس كل من هب ودب يسمع له ويقرأ في كتبه بل لا بد أن تعرف أن هذا الرجل من أهل العلم الموثوق في علمهم ومنهجهم وعقيدتهم حتى لا تهلك بشبهة يلقيها وأنت لا تلقي لها بالا. فلا بد من زيادة الاهتمام في العلم والتعلم. ثم أوصيكم بالاجتهاد أيضا في تعلم اللغة العربيه , كثير من الإخوة نأتي في كل سنة يكون بنفس المستوى في لغته وهذا حقا تقصير.</p>
<p>طالب العلم لم يتعلم ويتوسع في العلم حتى يتقن اللغة العربية , غالب كتب أهل العلم وأكثرها بهذه اللغة, والقرآن والسنة بهذه اللغة, فلا ننكر جهود الإخوة في الترجمة وغير ذلك لكن هذا لا يغني عن القراءة أو قراءة بكتب اللغة العربية , لأن الترجمة ترجع إلى فقه المترجم وإلى فهمه وإلى حسنه للغة . هذا يتفاوت فيه الناس .</p>
<p>كما أوصيكم بالحرص على التآلف والأخوة فيما بينكم ونصح بعضكم بعضا بالرفق واللين,خاصة بين الإخوة السلفيين والبعد عن أسباب الشقاق والفرقة واالأسباب التي تؤدي إلى انتكاس في الدعوة وضعة في الدعوة , كل ذلك يسببه الاختلاف فيما بيننا , فإن حصل عداء أو خلاف يحاول الطرفان في حله بشتى الطرق والسبل فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم بالتنازع تذهب الريح وتذهب الدعوة وتذهب قوة الإسلام والمسلمين</p>
<p>كما أوصيكم بالانتباه من الجمعيات الحزبية لأن اهتمامها في الغالب تركز على المسلمين في خارج بلاد العرب, تركزت جهودها هنا في أندونيسيا وفي الهند وفي باكستان وفي كثير من الدول التي تكون بعيدة عن بلاد العرب يبثون جهودهم حتى يستميلون الناس إلى حزبيتهم وإلى الأهواء خاصة بما عندهم من الفتنة وهي فتنة المال فتأتي جمعية إحياء التراث فتريد أن تأخذ الشباب في هذا البلد وقد أخذت وأخذت أن ذهب معها للدنيا فلم تثمر دعوتهم ولم يتحصل منه إلا الخزي بسبب انخراطه في مسلك التحزب والحزبية التي هي بدعة . وكذلك في الأيام الأخيرة حاولت جمعية البر في الدخول على إخواننا ولكنهم انقدحوا والحمد لله هذه الجمعية أيضا جمعية حزبية شقيقة إحياء التراث وهي التي نصر أبا الحسن المأربي وتدعوه تقيم له المحاضرات في الإمارات فينتبه إلى مثل هذه الحزبية والجمعيات. يقول عبد الله بن المبارك رحمه الله:</p>
<p>(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )</p>
<p>صاحب البدعة إذا جاءك وأعطاك وامتن عليك بأمر وأعطاك من المال وهم في البداية يقولون : نحن لا نريد منك شيئا ولا نريد شروطا ونريد أن نساعدك فقط لكن قليلا قليلا حتى يستدرجونك ويستدرجون دعوتك وتكون منهم تدافع عنهم هذا مشاهد وحاصل وهو الواقع في كثير</p>
<p>فلأن تدرس وتدرس تحت كل شجرة خير لك من أن تهلك مع هذه الحزبيات والجمعيات الهالكة , لن تتحصل لا على علم ولا على دين ولا على سنة فينبغي الحذر من هذه الحزبيات وغيرها</p>
<p>هذه وصية لكم لي ولكم أرجو أن تلقى قبولا واستماعا وأعيد الشكر وأكرره لكم وعلى حرصكم , نسأل الله عز وجل أن يثبتنا وإياكم على السنة , وأن يميتنا ويختم لنا بلا إله إلا الله وأن يتوفانا وإياكم مسلمين وأن يجيرنا بشر الفتن ما ظهر منها وما بطن وهو الشبهات والشهوات نسأل الله أن يعيذنا منها</p>
<p>جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="http://salafybpp.com/manhaj-salaf/134-nasehat-syaikh-khalid-bin-dhahawi-azh-zhafiri-hafizhahullah-taala.html" target="_blank">www.salafybpp.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/atsarussalaf.wordpress.com/865/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/atsarussalaf.wordpress.com/865/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=atsarussalaf.wordpress.com&amp;blog=11915199&amp;post=865&amp;subd=atsarussalaf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://atsarussalaf.wordpress.com/2011/07/24/kalimat-penutup-daurah-masyayikh-yang-disampaikan-oleh-syaikh-khalid-bin-dhahawi-azh-zhafiri-hafizhahullah-ta%e2%80%99ala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/239c69f79e0badb6555ef0aad62d999f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin atsarussalaf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://atsarussalaf.files.wordpress.com/2011/07/nasehat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasehat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
