Siapakah Firqah An-Najiyah Al Manshuroh itu?

Oleh : Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali hafizhahullah

Penanya: Apa yang dimaksud Firqah An Najiyah Al Manshurah, dan apakah sifat-sifatnya yang paling menonjol?

Jawaban:

Hendaklah difahami terlebih dahulu bahwa Firqah An Najiyah adalah Thaifah Al Manshurah. Dan pimpinan mereka adalah para ahli hadits baik secara riwayat maupun diroyah (penjagaan riwayat tersebut) di setiap masa dan tempat. Dan yang lebih patut untuk disebutkan disini bahwa para ulama Thaifah An Najiyah Al Manshurah adalah mereka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, yang disanjung oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dengan firmannya yang haq,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

Dan Ia meridhai mereka dengan firman-Nya Azza wa Jalla,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al Fath: 18)

Dan Ia memuji mereka dengan firman-Nya subhanahu wata’ala,

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)

Dan Ia memilih mereka lantaran persahabatan mereka dengan Nabi-Nya, pilihan dan kekasih-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka memuliakan, membela, menghormati, dan berjihad di bawah bendera kepemimpinan beliau guna membela kebenaran dan mengokohkannya serta melumatkan kebatilan.

Dan sungguh mereka telah mempelajari dua perkara yang agung, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah disinyalir dengan firman-Nya Yang Maha Benar,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa: 59)

Dan ayat semisalnya.

Keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah) telah diisyaratkan dengan sabda Rasul yang mulia -semoga dilimpahkan kepada beliau shalawat dan salam yang paling suci dan sempurna- ,

“Ketahuilah, sesungguhnya telah diberikan kepadaku Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya. Ketahuilah, dikhawatirkan seseorang merasa cukup dengan pendiriannya.” Kemudian beliau berkata, “Wajib bagi kalian berpegang dengan Al Qur’an ini, bila kalian mendapatkan di dalamnya perkara yang halal, maka halalkanlah. Dan bila kalian mendapatkan di dalamnya perkara yang haram, maka haramkanlah. Ketahuilah, tidak dihalakan bagi kalian keledai piaraannya, hewan buas yang memiliki cakar, dan sebuah temuan seorang kafir mu’ahad kecuali apabila pemiliknya tidak membutuhkannya lagi.”

Dan diisyaratkan pula dengan sabda beliau ‘alaihis shalatu wassalam,

“Aku telah meninggalkan dua perkara bagi kalian, yang kalian tidak akan sesat setelah keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Dan tidak akan berpisah keduanya hingga keduanya bertemu aku di telaga Haudl.”

Sebagaimana yang kedua, hendaklah diketahui bahwa Firqah An najiyah dan salaf ash shalih serta pengikut mereka yang setia, demikan pula jama’ah dan ashabul hadits Ahlussunnah wal atsar dan para ulama rabaniyun, para fuqaha agama, yang mereka mengetahui tentang Allah, perintah-perintah-Nya dan mereka menegakkan kebenaran dan berjihad di dalam membela (kebenaran tersebut), dan semisal sifat-sifat yang baik ini seluruhnya merupakan sifat-sifat hizbullah (pasukan Allah) yang beruntung dan tentaranya yang menang. Kendati mereka berbeda-beda dalam tingkat keilmuan, amalan, jihad dan dakwah serta selainnya dari pintu-pintu ilmu. Maka ashabul hadits memiliki sifat-sifat yang tinggi, kedudukan yang mulia, dan bagian yang besar tersebut.

Sifat-Sifat Mereka yang Paling Menonjol di Dalam Kitabullah dan Sunnah serta Ucapan-Ucapan Para Ulama.

Betapa banyak ayat-ayat yang mulia, yang telah menyebutkan sifat-sifat mereka dan ini diantaranya :

1. Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al Baqarah: 2-5)

Dan tanpa ragu bahwa ahli hadits adalah para ahlinya secara riwayat maupun diroyah, mereka ini adalah para pemimpin orang-orang yang bertakwa dan beruntung.

2. Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An Nisa: 69)

Tanpa ragu bahwa Thaifah An Najiyah Ahlul Hadits, merupakan pewaris para nabi dan di antara mereka adalah para shiddiqin, syuhada serta mereka adalah para pemimpin orang-orang yang shalih.

3. Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfal: 2-4)

Dan tanpa ada rasa bimbang bahwa ahli hadits memiliki lima sifat yang paling tinggi, sempurna dan suci.

4. Firman Allah yang Maha Benar Tabaraka wa Ta’ala,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (At Taubah: 111-112)

Ttidak ragu dan bimbang bahwa ahli hadits merupakan ahlinya di setiap masa, pelosok dan negeri, adalah para pemimpin orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat yang dipuji dan karakteristik yang mulia dari surat Taubah.

5. Firman-Nya Azza wa Jalla,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi.” (Al Mukminun: 1-10)

Dan tanpa ragu juga bahwa ahli hadits adalah para pemimpin yang disifati dengan sifat-sifat mulia yang terdapat di permulaan Surat Al Mukminun.

6. Firman Allah subhanahu wata’ala,

“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’ Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Rabb Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri Kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan pengharmatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (Al Furqan: 63-76)

Dan sesungguhnya termasuk perkara yang telah diketahui dengan pasti bahwa ahli hadits adalah orang-orang yang berhak disifati dengan sifat-sifat yang baik, seperti : sabar, tenang, tidak tergesa-gesa; dan mereka disifati dengan kesempurnaan nasihat bagi jiwa dan selain itu, yang nampak dari ikhlasnya doa dan istiqamahnya mereka.

7. Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)

Dan pada hakikatnya para sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang disifati dengan penyebutan dua ayat ini adalah para pemimpin ashabul hadits dan para Syaikh mereka yang pertama. Dan setiap orang yang datang setelah mereka dari kalangan ahli hadits, maka ia menukil dari mereka dan ia mengambil faidah dari ilmu mereka. Karena mereka merupakan pewaris pertama terhadap warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan cukuplah kemuliaan dan keutamaan bagi para ahli hadits bahwa para pemimpin mereka adalah para sahabat Nabi yang mulia. Kendati berjauhan masa dan berbeda generasinya. Dan setiap orang yang datang setelah mereka adalah pewaris mereka.

Dan betapa banyak dari hadits yang mulia, tinggi sanadnya dan shahih matannya, sungguh telah datang penyebutan sifat-sifat wali-wali Allah dan pemimpin mereka adalah ashabul hadits yang mereka apabila disebut Thaifah Al Manshurah, maka mereka adalah para pemimpinnya. Karena orang-orang yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu hadits, baik secara riwayat maupun diroyah, mereka adalah orang-orang yang paling menonjol dalam mencurahkan perhatian terhadap Al Qur’an dan ilmu-ilmunya. Dan secara umum mereka adalah orang-orang yang paling menonjol dalam bidang ilmu-ilmu syari’at, beramal, memelihara nash-nashnya, dan menyebarkan serta membelanya.

Dan di antara hadits-hadits yang menyebutkan tentang sifat-sifat mukminin secara umum dan ahlul hadits secara khusus:

1. Telah tetap riwayat-riwayat di dalam kitab-kitab shahih, musnad dan sunan, di antaranya:

Datang sebuah riwayat dalam Sunan Abu Daud dan selainnya dari hadits Abu Amir bin Abdullah bin Luhay, ia berkata, “Kami berhaji bersama Mu’awiyah radhiyallahu’anhu, maka tatkala kami tiba di Mekkah lalu kami shalat zhuhur, kemudian ia bangkit lantas berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab berpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan masuk ke dalam neraka, sedangkan yang satu di dalam surga, yaitu al jama’ah. Dan sesungguhnya akan muncul dari umatku, sekelompok kaum yang penyakit hawa nafsu menjalar di kalangan mereka sebagaimana penyakit rabies menjalar kepada seseorang, sehingga tidak ada dari urat atau ruas pun melainkan akan dimasukinya.”’

Maka di dalam hadits ini ada sebuah berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kelompok–kelompok yang binasa, berbahaya, dan sebab kebinasaannya serta akibat yang jelek darinya. Dan berita tentang Firqah An Najiyah At Thaifah Al Manshurah yang menjadi karakteristik jama’ah yang berpegang teguh dengan kebenaran, baik secara ilmu, amalan, dakwah dan jihad. Kendati jumlah mereka sedikit, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Sesungguhnya jama’ah itu adalah apa-apa yang mencocoki kitabullah walaupun engkau sendiri.”

2. Dan riwayat yang datang di dalam Sunan dan selainnya dengan lafazh-lafazh yang hampir sama dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,

“Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, yang 70 seluruhnya masuk neraka kecuali hanya satu.” Mereka mengatakan,”Siapakah yang satu golongan tersebut wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang berada semisal apa-apa yang aku dan para sahabat diatasnya.”

Saya katakan, hadits ini menunjukkan atas apa yang ditunjukkan sebelumnya dari kabar-kabar tentang firqah-firqah yang binasa dari umat ini dan umat-umat yang sebelumnya. Dan hal tersebut terjadi disebabkan perpecahan di dalam agama dan mengikuti hawa nafsu. Demikian pula kabar tentang kelompok yang selamat dan beliau menggambarkannya dengan berpegang teguh terhadap apa yang ditempuh oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Maka orang-orang yang berkomitmen dengan perkara tersebut di masa dan tempat manapun, maka ia termasuk salah seorang dari Firqah An Najiyah Al Manshurah, Ahlul Hadits wal Atsar wal Fiqh fi Ad din.

3. Dan telah datang riwayat yang menjelaskan tentang loyalitas, saling menyayangi dan mengasihi di antara mereka. Sebagaimana telah diriwayatkan di dalam Al Musnad dan selainnya dari hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, berkasih-sayang dan berlemah lembut di antara mereka, bagaikan satu jasad, apabila salah satu anggota jasad tersebut mengeluh, maka menyeret seluruh jasadnya mengalami demam dan tidak bisa tidur.”

Berbeda halnya ashabul bida’ (ahli bid’ah) dan hawa’, maka sesungguhnya telah terjadi perselisihan di antara mereka dan penyelisihan mereka terhadap kebenaran yang dipegangi oleh Ahlussunnah dengan pemahaman yang shahih. Dan tanpa diragukan lagi bahwa bagi ashabul hadits derajat yang tinggi dan sifat-sifat yang mulia ini.

4. Dan telah tetap di dalam Al Musnad dan As Sunan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tiga perkara yang barangsiapa yang memiliki salah satunya, maka ia akan merasakan lezatnya iman, yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada selainnya, dan ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah, dan ia benci untuk dikembalikan kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.”

Tidak diragukan bahwa sifat-sifat ini menghiasi lubuk hati Ath Thaifah An Najiyah Al Manshurah. Dan pendahulu mereka adalah ahli hadits baik secara riwayat maupun diroyah, ilmu dan amalan.

5. Dan telah datang riwayat dalam Muwatha’ Al Imam Malik dari hadits Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, ia mengatakan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya di antara hamba Allah, ada sekolompok manusia yang mereka bukanlah para nabi dan tidak pula para syuhada. Para nabi dan syuhada berkeinginan dengan kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami tentang mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan kekuatan dari Allah, padahal tidak ada hubungan darah di antara mereka dan tidak pula harta yang saling mereka berikan, lalu beliau membaca ayat ini,

“Sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada rasa takut dan sedih atas mereka.”

Saya katakan, dan tanpa ada rasa ragu bahwa ashabul hadits memiliki kedudukan yang tinggi di negeri akhirat, karena mereka telah menjaga agama Allah dan menyebarkannya. Dan hal itu dilakukan dengan mencurahkan perhatian yang besar terhadap dua perkara yang agung, yaitu kitabullah ‘Azza wa Jalla dan sunnah yang suci. Mereka telah menghabiskan umur mereka untuk rihlah di dalam mengumpulkannya dan meluangkan waktunya untuk menulisnya dan mendiktekannya kepada selainnya dengan segenap kesungguhan, seraya mengharapkan ganjaran pahala dari Allah dan takut terhadap siksaan-Nya. Demikian pula mereka meneladani Rasul yang mulia dan para nabi yang agung serta setiap ‘alim rabbani dan para pemelihara warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beramal dengannya dan menyampaikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya.

6. Dan diriwayatkan di dalam shahih Muslim dan selainnya dari hadits Tsauban radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Akan senantiasa ada sekelompok dari kalangan umatku yang menampakkan kebenaran. Tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang merendahkan mereka, hingga datang keputusan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan demikian.”

Maka sesungguhnya hadits ini telah ditafsirkan oleh para ulama yang mu’tabar (dikenal) dan yang dijadikan panutan, bahwasanya yang dimaksud dengan kelompok yang disebutkan di atas adalah ahli hadits di setiap tempat dan masa. Dan para ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Thaifah An Najiyah Al Manshurah adalah ahli hadits, di antaranya: Abdullah Ibnul Mubarak[1], Yazid bin Harun Al Wasithi[2], Ali Ibnul Madini[3], Ahmad bin Muhammad bin Hanbal[4], Bukhari[5], Tirmidzi[6], Ibnu Jarir Ath Thabari[7], Ibnu ‘Abi ‘Ashim[8], Ibnu Baththah Al Uqbari[9], Al Hakim[10], Al Lalikaai[11], Al Baghdadi[12], Abul Fadhl[13] dan selain mereka. Rujuklah untuk mengenal nama-nama mereka, keterangan-keterangan tentang mereka, penjelasan-penjelasan mereka di dalam pembahasan ini. Kenalilah kitab-kitab mereka dan kitab-kitab para ulama yang menulis biografi kehidupan mereka, baik secara keilmuan, dakwah dan jihad –semoga Allah merahmati mereka-.

Adapun dua imam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, telah menguraikan tentang ahli hadits di beberapa tempat di dalam tulisan-tulisan mereka dan bahwasanya mereka adalah Thaifah An Najiyah Al Manshurah. Sebagaimana Al Imam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan perkara tersebut di dalam Aqidah Al Wasithiyah dan selainnya dari tulisan-tulisan beliau. Demikian pula Ibnul Qayyim Al Jauziyah di dalam Nuniyah-nya yang populer dengan Nuniyah Ibnul Qayyim dan tulisan-tulisan selainnya. Di dalamnya ditemukan pembelaan beliau terhadap ahli hadits dan atsar Ath Thaifah An Najiyah Al Manshurah dan bantahan yang kuat terhadap setiap orang yang menyelisihi mereka dari pengekor hawa nafsu dan bid’ah, yang tidak menghormati kebenaran dan tidak mencintai pengikutnya, bahkan justru sebaliknya. Oleh karena itu ciri-ciri mereka adalah mencerca ahli atsar, hal itu dinyatakan oleh para ulama salaf rahimahumullah. Wallahua’lam.

Dan termasuk sifat-sifat para pengekor hawa nafsu dan bid’ah adalah membenci ahli hadits sebagaimana Ahmad Al Qathan mengatakan, “Tidak ada seorang ahli bid’ah pun di dunia, melainkan ia membenci ahli hadits. Dan apabila seseorang mengadakan bid’ah, maka akan dicabut manisnya hadits dari hatinya. Ya Allah berikanlah keselamatan kepada kami, berikanlah keselamatan kepada kami.”



[1] Beliau adalah Al Imam Abdullah Ibnul Mubarak, meninggal pada tahun 181 H.

[2] Beliau adalah Al mam Yazid bin Harun Al Washiti, meninggal pada tahun 206 H.

[3] Beliau adalah Al Imam ‘Ali bin Abdullah Al Madini, meninggal pada tahun 234 H.

[4] Beliau adalah al Imam Ahmad bin Hanbal, meninggal pada tahun 241 H.

[5] Beliau adalah Al Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari, meninggal pada tahun 256 H.

[6] Beliau adalah Al imam Al Hafizh Muhammad bin ‘Isa bin Surah At Tirmidzi, meninggal pada tahun 279 H.

[7] Beliau adalah Al Imam Muhammad bin Jarir Ath Thabari, meninggal pada tahun 310 H.

[8] Beliau adalah Al imam Al Hafizh Abu Bakar Umar bin abu ‘Ashim Adh Dhahhak, meninggal pada tahun 287 H.

[9] Beliau adalah Al Imam Abdullah bin Muhammad bin Baththah Al ‘Uqbari, meninggal pada tahun 387 H.

[10] Beliau adalah Al Imam Al Hafizh Abu Abdillah Abdullah Al Hakim 405 H.

[11] Beliau adalah Al Imam Al Hafizh Abul Qasim Hibatullah bin Al Hasan bin Manshur Ath Thabari Al Lalikaai, meninggal pada tahun 418 H.

[12] Beliau adalah Al Imam Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit Al Khathib Al Baghdadi, meninggal pada tahun 463 H.

[13] Beliau adalah Al Imam Qawamus Sunnah Abul Qasim Ismail bin Muhammad Abul Fadhl, meninggal pada tahun 535 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: