Hukum Jual Beli Dua Harga

Oleh : Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi)

Pertanyaan 15-169, 15/6/1393 H

Penanya :
Apa pendapatmu pada transaksi jual beli mobil: Jika dibeli secara tunai harganya 10.000 riyal, namun jika dibeli secara kredit (angsuran) 12.000 riyal sebagaimana yang berlaku saat ini di berbagai dealer/showroom mobil?

Jawaban:
Jika seseorang membeli mobil atau selainnya dari orang lain, misalnya dengan harga 10.000 riyal secara tunai atau 12.000 riyal -secara kredit- kemudian berpisah dari majelis akad, tanpa ada kesepakatan dari dua akad tadi (mau tunai ataukah kredit), maka jual beli semacam ini tidak diperbolehkan karena adanya ketidakjelasan harga yang dipilih dan tidak ada kejelasan tunai ataukah kredit. Kebanyakan ulama beralasan dengan hadits yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli 2 harga dalam satu jual beli.[1]
Namun jika telah disepakati oleh orang yang melakukan akad sebelum berpisah dari majelis akad antara dua harga tadi (yaitu dibeli secara tunai ataukah kredit), lalu setelah itu mereka berdua berpisah setelah menentukan dua harga tersebut, maka jual beli semacam ini sah, karena harga dan waktu pembayaran telah ditentukan.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

[1] Hadits tersebut adalah dari Abu Hurairah,
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dua harga dalam satu jual beli.” (Hadits riwayat Malik, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Dan Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih)

4 Tanggapan

  1. saya mau tanya. jika menjual dengan harga Rp200 di angsur 3x. jika cast discon 30%. bagaimana hukumnya?

  2. ust gmn dengan kredit motor yg di jalankn perusahan lising.apkh terjadi di dalamnya 2 akad dalm satu transaksi? sukron

    • Bismillah, untuk menjawab pertanyaan anda, maka kami bawakan fatwa dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin:
      HUKUM BERINTERAKSI DENGAN PERUSAHAAN-PERUSAHAAN LEASING (PERKREDITAN)
      Pertanyaan
      Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Kita banyak membaca
      seputar adanya beberapa perusahaan leasing (perkreditan) melalui
      beberapa surat kabar dan kita juga mendengar hal itu melalui
      orang-orang (dari mulut ke mulut). Apakah boleh berinteraksi dengan
      perusahaan-perusahaan tersebut dan memanfaatkan jasa layanannya?

      Jawaban
      Kita harus mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan
      perusahaan-perusahaan perkreditan; apakah yang dimaksud adalah
      penjualan secara kredit atau apa? Jika yang dimaksud adalah penjualan
      dengan kredit, maka penjualan secara tangguh adalah dibolehkan
      berdasarkan makna zhahir Al-Qur’an dan dalil yang jelas dari As-Sunnah.
      Mengenai hal itu, dalam Al-Qur’an Allah berfirman.

      “Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah
      tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
      menuliskannya…” hingga firman-Nya:
      “…dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun
      besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di
      sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada
      tidak (menimbulkan) keraguannmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali
      jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu,
      maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya…” (Qs. Al-Baqarah:
      282)

      Hal tersebut, yakni penjualan secara tangguh (kredit) adalah boleh
      hukumnya berdasarkan dalil As-Sunnah yang jelas sekali, sebab Nabi shallallahu
      ‘alaihi wa sallam pernah mengutus kepada seorang laki-laki yang telah
      mempersembahkan
      kepada beliau pakaian dari Syam agar menjualnya dengan dua buah baju
      kepada Maisarah (budak Khadijah, isteri beliau) [1]

      Dalam kitab Ash-Shahihain dan selain keduanya dari hadits yang diriwayatlkan
      oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

      “Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang ke
      Madinah sementara mereka biasa melakukan jual beli secara salam
      (memberikan uang di muka namun barangnya belum bisa diambil/memesan)
      terhadap kurma setahun atau dua tahun, lalu beliau shallallahu ‘alaihi
      wa sallam bersabda: “Barangsiapa memesan kurma, maka hendaklah dia
      memesan dalam takaran (Kayl) yang sudah diketahui, dan wazan
      (timbangan) yang sudah diketahui hingga batas waktu yang sudah
      diketahui.” [2]

      Akan tetapi kami pernah mendengarkan bahwa ada sebagian orang yang
      menjual barang yang tidak dimilikinya setelah dia mengetahui ada
      permintaan dari pembeli kepadanya, seperti seseorang mendatangi seorang
      pedagang sembari berkata padanya, “Saya ingin barang yang begini akan tetapi
      saya tidak bisa membayarnya.” Lalu si pedagang pergi dan membelinya dari
      pemilik asalnya, kemudian
      menjualnya lagi kepada orang yang mencarinya tersebut dengan harga
      tangguh (kredit) yang lebih mahal daripada harga ketika dia membelinya.

      Tidak diragukan labi bahwa ini merupakan pengelabuan (siasat licik)
      yang amat jelas sekali untuk melakukan riba, sebab sipedagang ini tidak
      pernah berminat membeli barang itu ataupun membeli untuk dirinya
      sendiri. Tujuannya hanyalah ingin mendapatkan keuntungan yang akan
      diberikan oleh si pembeli kepadanya. Dan ini akan menjadi pembeda
      antara jual beli kontan dengan jual beli kredit.

      Sebagian orang terkadang sengaja berkata, “Saya mengambil keuntungan
      dari anda, misalnya 8%. Atau mengatakan, pada tahun ke dua sebesar 10%.
      Atau, pada tahun ke tiga menjadi sebesar 15%, demikian seterusnya, riba
      semakin bertambah setiap kali waktunya diperpanjang, atau setiap kali
      terlambat membayarnya. Ini merupakan bukti yang nyata sekali bahwa yang
      dimaksud oleh si pedagang tersebut hanyalah riba saja.

      Seorang yang berakal, bila merenungi hal itu pasti akan menemukan
      bahwa tindakan mengelabui tersebut lebih dekat kepada riba dari jenis
      Inah yang telah diingatkan oleh Rasulullah. Jual beli Inah adalah
      seseorang menjual sesuatu dengan harga tangguh (kredit) lalu membelinya
      lagi secara tunai (kontan) dengan harga yang lebih murah dari harga
      saat dia mejualnnya kepadanya.

      Bisa jadi si penjual ini, yakni penjual pertama ketika menjualnya
      tidak terbetik di hatinya bahwa dia akan membelinya lagi dari orang
      yang telah membeli darinya, demikian pula tidak pernah terbetik di hati
      si pembeli bahwa dia akan menjualnya lagi, kemudian setelah itu dia
      mengurungkan niatnya dan menawarkannya di pasaran; sehingga tidak halal
      (boleh) bagi penjual pertama untuk membelinya dengan harga yang lebih
      rendah (murah) dari harga ketika dia menjualnya, sebab ini termasuk
      jual beli Inah yang telah diperingatkan oleh Rasulullah agar tidak
      dilakukan, dalam sabdanya:

      “Artinya: Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara
      Inah, senantiasa memegang ekor sapi, rela dengan tanah garapan
      pertanian (senantiasa mendahulukan kehidupan dunia atas kehidupan
      akhirat,-pent) dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan
      kalian kehinaan yang tidak akan dicabutNya hingga kalian kembali kepada
      ajaran dien kalian.” [3]

      Sebagaimana telah diketahui bahwa pengelabuan (siasat licik)
      terhadap penjualan secara kredit yang telah saya sebutkan di muka lebih
      dekat dengan pengelabuan dalam masalah Inah. Oleh karena itu, saya
      menasehati saudara-saudaraku, para penjual dan pembeli dari melakukan
      transaksi seperti ini, yang mereka tidak akan mendapatkan selain
      dicabutnya keberkahan pada jual beli mereka. Sementara Allah telah
      berfirman:

      Artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” (Qs. Al-Baqarah: 276)

      Disamping itu, traksaksi seperti ini mengandung dampak negatif dari
      aspek ekonomi karena begitu mudahnya sehingga membuat kaum fakir nekat
      melakukannya dan menanggung hutang serta menyibukkan beban diri mereka
      dengan hutang-hutang yang telah bertumpuk ini. Barangkali, ada waktunya
      mereka sama sekali tidak mampu melunasinya, maka ketika itu terjadilah
      berbagai problematika dan perselisihan antara si penjual dan pembeli
      bahkan bisa jadi sampai kepada kondisi kebangkrutan, lalu apa akibat
      yang akan dituai oleh penjual yang sengaja menginginkan riba dari
      transaksi tersebut? Allah berfirman:

      Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang
      melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada
      mereka: ‘Jadilah kamu kera yang hina.’ Maka Kami jadikan yang demikian
      itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang
      kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs.
      Al-Baqarah: 66-67)

      Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan nasehat kepada segenap
      saudara-saudaraku, kaum muslimin agar tidak melakukan pengelabuan
      terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan hendaknya mereka
      mengetahui bahwa yang menjadi standar dalam akad-akad jual-beli adalah
      tujuan-tujuannya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      “Artinya: Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung kepada niatnya, dan
      setiap orang tergantung kepada niatnya.” [4]

      Bila orang ini memang benar-benar temannya, maka alangkah baiknya
      dia meminjamkannya dengan pinjaman yang baik (Qardl Hasan), yang tidak
      mengandung riba di dalamnya. Dengan begitu, dia termasuk orang-orang
      yang berbuat ihsan sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di
      dalam kitab-Nya.

      “Artinya: sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (ihsan).”
      (Qs. Al-Baqarah: 195)

      Dan saya menasehati saudara saya yang melakukan transaksi seperti
      ini agar menggugurkan riba yang ditambahkannya kepada harga mobil
      tersebut dan hanya mengambil sebatas harga pembeliannya saja.

      [Kitab Ad-Da’wah, edisi 5, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2, hal. 55-60]
      _________
      Catatan Kaki:
      [1]. HR At-Tirmidzi, Kitab Al-Buyu (1213), An-Nasai, Kitab Al-Buyu (7 /294),
      Ahmad (6 /147).
      [2]. HR Al-Bukhari, Kitab As-Salam (2239-2241), Muslim, Kitab Al-Musaqah (1604)
      [3]. HR Abu Dawud, Kitab Al-Buyu’ (3462), Hadits ini memiliki jalur periwayatan
      yang dapat menguatkan kualitasnya (lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah, No. 11.
      [4]. HR Al-Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyi (1), Muslim, Kitab Al-Imarah (1907)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: