Beberapa Kesalahan dalam Bulan Ramadhan

Islam, dalam banyak ayat dan hadits, senantiasa mengumandangkan pentingnya ilmu sebagai landasan berucap dan beramal. Maka bisa dibayangkan, amal tanpa ilmu hanya akan berbuah penyimpangan. Kajian berikut berupaya menguraikan beberapa kesalahan berkait amalan di bulan Ramadhan. Kesalahan yang dipaparkan di sini memang cukup โ€˜fatalโ€™. Jika didiamkan terlebih ditumbuhsuburkan, sangat mungkin akan mencabik-cabik kemurnian Islam, lebih-lebih jika itu kemudian disirami semangat fanatisme golongan.

Penggunaan Hisab Dalam Menentukan Awal Hijriyyah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan dalam menentukan awal bulan Hijriyyah dalam hadits-haditsnya, di antaranya:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู„ุงูŽ ุชูŽุตููˆู’ู…ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆูุง ุงู„ู’ู‡ูู„ุงูŽู„ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชููู’ุทูุฑููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู

โ€œDari Ibnu โ€˜Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan Ramadhan, maka beliau mengatakan: โ€˜Janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa dengan masuknya syawwal, -pent.) sehingga kalian melihatnya. Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglahโ€™.โ€ (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan hadits yang semacam ini cukup banyak, baik dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim maupun yang lain.
Kata-kata ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุงู‚ู’ุฏูุฑููˆุง ู„ูŽู‡ู (Bila kalian tertutup oleh awan maka hitunglah) menurut mayoritas ulama bermadzhab Hanbali, ini dimaksudkan untuk membedakan antara kondisi cerah dengan berawan. Sehingga didasarkannya hukum pada penglihatan hilal adalah ketika cuaca cerah, adapun mendung maka memiliki hukum yang lain.
Menurut jumhur (mayoritas) ulama, artinya: โ€œLihatlah awal bulan dan genapkanlah menjadi 30 (hari).โ€
Adapun yang menguatkan penafsiran semacam ini adalah riwayat lain yang menegaskan apa yang sesungguhnya dimaksud. Yaitu sabda Nabi yang telah lalu (maka sempurnakan jumlah menjadi 30) dan riwayat yang semakna. Yang paling utama untuk menafsirkan hadits adalah dengan hadits juga. Bahkan Ad-Daruquthni meriwayatkan (hadits) serta menshahihkannya, juga Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dari hadits Aisyah:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุชูŽุญูŽูู‘ูŽุธู ู…ูู†ู’ ุดูŽุนู’ุจูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุชูŽุญูŽูู‘ูŽุธู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุตููˆู’ู…ู ู„ูุฑูุคู’ูŠูŽุฉู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽุฏู‘ูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซููŠู’ู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽุงู…ูŽ

โ€œDahulu Rasulullah sangat menjaga Syaโ€™ban, tidak sebagaimana pada bulan lainnya. Kemudian beliau puasa karena ru`yah bulan Ramadhan. Jika tertutup awan, beliau menghitung (menggenapkan) 30 hari untuk selanjutnya berpuasa.โ€ (Dinukil dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar)
Oleh karenanya, penggunaan hisab bertentangan dengan Sunnah Nabi dan bertolak belakang dengan kemudahan yang diberikan oleh Islam.

ุฃูŽุชูŽุณู’ุชูŽุจู’ุฏูู„ููˆู’ู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุจูุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ

โ€œMaukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?โ€ (Al-Baqarah: 61)

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ูŽ ูŠูุณู’ุฑูŒ ูˆูŽู„ูŽู†ู’ ูŠูุดูŽุงุฏู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุบูŽู„ูŽุจูŽู‡ูุŒ ููŽุณูŽุฏู‘ูุฏููˆุง ูˆูŽู‚ูŽุงุฑูุจููˆุง ูˆูŽุฃูŽุจู’ุดูุฑููˆุง ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุนููŠู’ู†ููˆุง ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏู’ูˆูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽูˆู’ุญูŽุฉู ูˆูŽุดูŽูŠู’ุกู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูู„ู’ุฌูŽุฉู

โ€œDari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata: โ€˜Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Dan tidak seorangpun memberat-beratkan dalam agama ini kecuali ia yang akan terkalahkan olehnya. Maka berusahalah untuk benar, mendekatlah, gembiralah dan gunakanlah pagi dan petang serta sedikit dari waktu malamโ€™.โ€ (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabul Iman Bab Ad-Dinu Yusrun)
Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah atau Dewan Fatwa dan Riset Ilmiah Saudi Arabia:
Apakah boleh bagi seorang muslim untuk mendasarkan penentuan awal dan akhir puasa pada hisab ilmu falak, ataukah harus dengan ru`yah (melihat) hilal?
Jawab: โ€ฆAllah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani kita dalam menentukan awal bulan Qomariyah dengan sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Padahal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah yang ada telah menjelaskan, yaitu menjadikan ru`yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasa kaum muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian juga dalam menetapkan Iedul Adha dan hari Arafah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ููŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽู‡ูุฏูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ุดู‘ูŽู‡ู’ุฑูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุตูู…ู’ู‡ู

โ€œโ€ฆMaka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.โ€ (Al-Baqarah: 185)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ููˆู’ู†ูŽูƒูŽ ุนูŽู†ู ุงู’ู„ุฃูŽู‡ูู„ู‘ูŽุฉู ู‚ูŒู„ู’ ู‡ููŠูŽ ู…ูŽูˆูŽุงู‚ููŠู’ุชู ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู

โ€œMereka bertanya tentang hilal-hilal. Katakanlah, itu adalah waktu-waktu untuk manusia dan untuk haji.โ€ (Al-Baqarah: 189)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ููˆู’ู‡ู ููŽุตููˆู’ู…ููˆุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูู…ููˆู’ู‡ู ููŽุฃูŽูู’ุทูุฑููˆุงุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุบูู…ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ููŽุฃูŽูƒู’ู…ูู„ููˆุง ุงู„ู’ุนูุฏู‘ูŽุฉูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซููŠู’ู†ูŽ

โ€œJika kalian melihatnya, maka puasalah kalian. Jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Namun jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah menjadi 30.โ€
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tetapnya (awal) puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka (mengakihiri Ramadhan) dengan melihat hilal Syawwal. Sama sekali Nabi tidak mengaitkannya dengan hisab bintang-bintang dan orbitnya (termasuk rembulan, -pent.). Yang demikian ini diamalkan sejak zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Khulafa` Ar-Rasyidin, empat imam, dan tiga kurun yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam persaksikan keutamaan dan kebaikannya.

Oleh karena itu, menetapkan bulan-bulan Qomariyyah dengan merujuk ilmu bintang dalam memulai awal dan akhir ibadah tanpa ru`yah adalah bidโ€™ah, yang tidak mengandung kebaikan serta tidak ada landasannya dalam syariatโ€ฆ.โ€ (Fatwa ini ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Maniโ€™, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan. Lihat Fatawa Ramadhan, 1/61)
Asy-Syaikh Ibnu โ€˜Utsaimin rahimahullahu berkata: โ€œTentang hisab, tidak boleh beramal dengannya dan bersandar padanya.โ€ (Fatawa Ramadhan, 1/62)

Tanya: Sebagian kaum muslimin di sejumlah negara, sengaja berpuasa tanpa menyandarkan pada ru`yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?
Asy-Syaikh Abdul โ€˜Aziz bin Baz menjawab: โ€œSesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk (mereka berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal maka jika mereka tertutup olah awan hendaknya menyempurnakan jumlahnya menjadi 30) -Muttafaqun alaihi-
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
โ€œKami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu adalah demikian, demikian, dan demikian.โ€ โ€“beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakanโ€“: โ€œBulan itu begini, begini, dan begini โ€“serta mengisyaratkan dengan seluruh jemarinyaโ€“.โ€
Beliau maksudkan dengan itu bahwa bulan itu bisa 29 atau 30 (hari). Dan telah disebutkan pula dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
โ€œPuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Syaโ€™ban menjadi 30 (hari).โ€
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya):
โ€œJangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah. Dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.โ€

Masih banyak hadits-hadits dalam bab ini. Semuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru`yah, atau menggenapkannya jika tidak memungkinkan ru`yah. Ini sekaligus menjelaskan tidak bolehnya bertumpu pada hisab dalam masalah tersebut.
Ibnu Taimiyyah1 telah menyebutkan ijmaโ€™ para ulama tentang larangan bersandar pada hisab dalam menentukan hilal-hilal. Dan inilah yang benar, tidak diragukan lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)
Pembahasan lebih rinci tentang hisab bisa dilihat kembali dalam Asy-Syariah edisi khusus Ramadhan tahun 2004.

Imsak sebelum Waktunya
Imsak artinya menahan. Yang dimaksud di sini adalah berhenti dari makan dan minum dan segala pembatal saat sahur. Kapankah sebetulnya disyariatkan berhenti, ketika adzan tanda masuknya subuh atau sebelumnya, yakni adzan pertama sebelum masuknya subuh? Karena dalam banyak hadits menunjukkan bahwa subuh memiliki dua adzan, beberapa saat sebelum masuk dan setelahnya.

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: โ€œMasalah ini, di mana banyak orang (meyakini) bahwa makan di malam hari pada saat puasa diharamkan sejak adzan pertama2 (yakni sebelum masuknya waktu subuh), yang adzan ini mereka sebut dengan adzan imsak, tidak ada dasarnya dalam Al-Qur`an, As-Sunnah dan dalam satu madzhabpun dari madzhab para imam yang empat. Mereka semua justru sepakat bahwa adzan untuk imsak (menahan dari pembatal puasa) adalah adzan yang kedua yakni adzan yang dengannya masuk waktu subuh. Dengan adzan inilah diharamkan makan dan minum serta melakukan segala hal yang membatalkan puasa. Adapun adzan pertama yang kemudian disebut adzan imsak, pengistilahan semacam ini bertentangan dengan dalil Al-Qur`an dan Hadits. Adapun Al-Qur`an, maka Rabb kita berfirman โ€“dan kalian telah dengar ayat tersebut berulang-ulangโ€“โ€ฆ

ูˆูŽูƒูู„ููˆุง ูˆูŽุงุดู’ุฑูŽุจููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุทู ุงู’ู„ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุทู ุงู’ู„ุฃูŽุณู’ูˆูŽุฏู ู…ูŽู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู

โ€œDan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.โ€ (Al-Baqarah: 187)
Ini merupakan nash yang tegas di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan bagi orang-orang yang berpuasa yang bangun di malam hari untuk melakukan sahur. Artinya, Rabb kita membolehkan untuk makan dan mengakhirkannya hingga ada adzan yang secara syarโ€™i dijadikan pijakan untuk bersiap-siap karena masuk waktu fajar shadiq (yakni masuknya waktu subuh, -pent.). Demikian Rabb kita menerangkan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan makna ayat yang jelas ini dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mengatakan:

ู„ุงูŽ ูŠูŽุบูุฑู‘ูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุฐูŽุงู†ู ุจูู„ุงูŽู„ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุคูŽุฐู‘ูู†ู ุจูู„ูŽูŠู’ู„ู

โ€œJanganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan di waktu malam.โ€3
Dalam hadits yang lain selain riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

ู„ุงูŽ ูŠูŽุบูุฑู‘ูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุฃูŽุฐูŽุงู†ู ุจูู„ุงูŽู„ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุคูŽุฐู‘ูู†ู ู„ููŠูŽู‚ููˆู’ู…ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฆูู…ู ูˆูŽูŠูŽุชูŽุณูŽุญู‘ูŽุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุชูŽุณูŽุญู‘ูุฑู ููŽูƒูู„ููˆุง ูˆูŽุงุดู’ุฑูŽุจููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุคูŽุฐู‘ูู†ูŽ ุงุจู’ู†ู ุฃูู…ู‘ู ู…ูŽูƒู’ุชููˆู’ู…ู

โ€œJanganlah kalian terkecoh oleh adzan Bilal, karena Bilal adzan untuk membangunkan yang tidur dan untuk menunaikan sahur bagi yang sahur. Maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melantunkan adzan4โ€ฆ.โ€ (Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 344-345)
Ibnu Hajar (salah satu ulama besar madzhab Syafiโ€™i) dalam Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari (4/199) juga mengingkari perbuatan semacam ini. Bahkan beliau menganggapnya termasuk bidโ€™ah yang mungkar.

Oleh karenanya, wahai kaum muslimin, mari kita bersihkan amalan kita, selaraskan dengan ajaran Nabi kita, kapan lagi kita memulainya (jika tidak sekarang)? (Lihat pula Muโ€™jamul Bidaโ€™ hal. 57)
Di sisi lain, adapula yang melakukan sahur di tengah malam. Ini juga tidak sesuai dengan Sunnah Nabi, sekaligus bertentangan dengan maksud dari sahur itu sendiri yaitu untuk membantu orang yang berpuasa dalam menunaikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ุจูŽูƒู‘ูุฑููˆุง ุจูุงู’ู„ุฅููู’ุทูŽุงุฑูุŒ ูˆูŽุฃูŽุฎู‘ูุฑููˆุง ุงู„ุณู‘ูŽุญููˆู’ุฑูŽ

โ€œSegeralah berbuka dan akhirkan sahur.โ€ (Shahih, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1773)

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุนูŽุทููŠู‘ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูู„ู’ุชู ู„ูุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ: ูููŠู’ู†ูŽุง ุฑูŽุฌูู„ุงูŽู†ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ูŠูุนูŽุฌู‘ูู„ู ุงู’ู„ุฅููู’ุทูŽุงุฑูŽ ูˆูŽูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑู ุงู„ุณู‘ูุญููˆู’ุฑูŽุŒ ูˆูŽุงู’ู„ุขุฎูŽุฑู ูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑู ุงู’ู„ุฅููู’ุทูŽุงุฑูŽ ูˆูŽูŠูุนูŽุฌู‘ูู„ู ุงู„ุณู‘ูุญููˆู’ุฑูŽ. ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูู…ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุนูŽุฌู‘ูู„ู ุงู’ู„ุฅููู’ุทูŽุงุฑูŽ ูˆูŽูŠูุคูŽุฎู‘ูุฑู ุงู„ุณู‘ูุญููˆู’ุฑูŽุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู. ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’: ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนู

Dari Abu โ€˜Athiyyah ia mengatakan: Aku katakan kepada โ€˜Aisyah: Ada dua orang di antara kami, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang lain menunda berbuka dan mempercepat sahur. โ€˜Aisyah mengatakan: โ€œSiapa yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?โ€ Aku menjawab: โ€œAbdullah bin Masโ€™ud.โ€ โ€˜Aisyah lalu mengatakan: โ€œDemikianlah dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.โ€ (HR. At-Tirmidzi, Kitabush Shiyam Bab Ma Ja`a fi Taโ€™jilil Ifthar, 3/82, no. 702. Beliau menyatakan: โ€œHadits hasan shahih.โ€)
At-Tirmidzi mengatakan: Hadits Zaid bin Tsabit (tentang mengakhirkan sahur, -pent.) derajatnya hasan shahih. Asy-Syafiโ€™i, Ahmad, dan Ishaq berpendapat dengannya. Mereka menyunnahkan untuk mengakhirkan sahur.โ€ (Bab Ma Ja`a fi Ta`khiri Sahur)

Diantara kesalahan yang lain adalah:
– Mengakhirkan adzan Maghrib dengan alasan kehati-hatian/ihtiyath (Muโ€™jamul Bidaโ€™, hal. 268)
– Membunyikan meriam untuk memberitahukan masuknya waktu shalat, sahur, atau berbuka. Al-Imam Asy-Syathibi menganggapnya bidโ€™ah. (Al-Iโ€™tisham, 2/103; Muโ€™jamul Bidaโ€™, hal. 268)
– Bersedekah atas nama roh dari orang yang telah meninggal pada bulan Rajab, Syaโ€™ban, dan Ramadhan. (Ahkamul Jana`iz, hal. 257, Muโ€™jamul Bidaโ€™, hal. 269)
Dan masih banyak lagi kesalahan lain, yang Insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang lain.
Wallahu aโ€™lam bish-shawab.

Footnote :
1 Lihat pula Majmuโ€™ Fatawa (25/179)
2 Bila di masyarakat kita tandanya adalah dengan selain adzan, seperti sirine, petasan, atau yang lain yang tidak ada dasar syarโ€™inya sama sekali.
3 Yakni sebelum masuk waktu subuh.
4 Karena Ibnu Ummi Maktum adzan setelah masuk waktu subuh.

(Dikutip dari http://asysyariah.com/print.php?id_online=371)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: